Wisata Edukasi di Kamojang,Apakah Manusia Bisa Transformasi Seperti Elang?

Kamojang adalah salah satu nama kecamatan di Garut bagian Barat yang jaraknya tidak jauh dari kota. Sekilas mendengar Kamojang memang banyak yang tertuju ke daerah kecil di Majalengka dan nyatanya termasuk daerah perbatasan yang menghubungkan Garut dan Majalengka.

Pernahkah memperhatikan letak geografis suatu daerah? jika mengamatinya lebih jauh pasti akan menemukan banyak kesamaan antar daerah satu dengan yang lainnya. Begitu pun dengan Kamojang. Bagi saya, Kamojang seperti daerah yang tidak asing lagi di kota Bandung yaitu Ciwidey atau jalan di Bandung utara menuju puncak Bintang.

Udara dingin mulai mengoyak jaket ketika masih mengendarai motor dan tempat yang kami tuju rupanya masih jauh dalam pandangan. Kunjungan kali ini menuai banyak harapan agar tidak seperti tahun lalu yang ditutup karena berbagai alasan.

Perasaan kacau dan pikiran semrawut mulai nampak di raut wajah yang tak bisa disembunyikan. Segala tanya menjadi belantara di kepala dengan jawaban yang menyesatkan. “Mengapa?” mengapa harus ditutup lagi? Mungkin saya memang belum beruntung bisa mendapat akses ke tempat konservasi?. Andai saja hari sabtu tidak ditutup yang katanya sedang ada rapat aktivis lingkungan, hari ini saya dan Azaria sudah memutuskan untuk pulang. Akan tetapi kami terus berusaha mengunjungi kembali demi menuntaskan rasa penasaran.

Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK)  bukan hanya membuat saya penasaran melainkan hal yang sama juga dirasakan oleh Azaria. Sudah jauh kami menempuh perjalanan dari Tasik ke Garut dan sia-sia saja jika tidak membawa apa pun dari kota ini. Tas kulit, sepatu kulit, kerupuk kulit sudah lumrah di mana-mana bahkan dodol Garut sudah di cicipi berkali-kali. Bukan itu tujuan saya, ada hal yang ingin dicari tahu lebih dalam melebihi dari pada mengetahui Pusat Konservasi Elang itu seperti apa.

“Giman Rit, sudah konfirmasi temanmu?” tanya saya dengan pertanyaan yang diulang sepanjang jalan.

Rizka atau seseorang yang selalu dipanggil Norit mempunyai salah satu teman yang menjadi pengurus di pusat konservasi. Jadi cukup mudah jika ingin masuk ke tempat itu di samping terlihat bagaimana Norit tidak ingin mengecewakan saya kesekian kalinya.

Setelah mendapat konfirmasi dari temannya Norit, akhirnya saya bisa mendapat akses masuk ke tempat konservasi. What a blessed and thankfull! Akhirnya pergi ke Garut kali ini tidak sia-sia dan bisa pulang tanpa kekosongan.

Pertama kali masuk ke bagian depan Pusat Konservasi, saya disajikan dengan penampakan bangunan yang keren dan unik. Jika diamati lebih jauh bangunan ini terlihat seperti pendopo di tengah bukit yang luas. Kiri kanan halamannya terdapat pohon pucuk merah yang masih kecil-kecil memagari bangunan. Selain rapi dan bersih, juga nampak begitu sempurna dengan ukiran arsitektur yang menyerupai sanggar seni.

Azaria dan Norit mengitari luasnya halaman sambil membidik objek yang menarik perhatian termasuk diri saya dari kejauhan. Sebagai sahabat yang sudah cukup lama bersama, kadang kami selalu iseng saling mengabadikan diri tanpa memberitahu satu sama lain.

Saya pun menghampiri mereka dan melihat penampakan bangunan dari arah samping kiri dan kanan. Tak ada kecacatan sama sekali pada pahatan kayu, cat tembok, dan arsitektur yang apik dan tradisional. Lagi-lagi, saya enggan pergi.

Di arah Timur dari bangunan ini juga berdiri ruang dengan tulisan Raptory Corner tak kalah menarik perhatian. Dari kejauhan terlihat lukisan 3 elang di sudut kanan menambah komposisi keindahan ruang yang di isi dengan kursi dan meja kayu. Raptory Corner adalah sudut yang sengaja dibuat untuk para aktivis lingkungan dan pengunjung yang senang diskusi sambil menikmati kopi.

Setelah mengenal pelataran lebih jauh, saya dan teman-teman di ajak masuk ke dalam studio yang dari luar terlihat seperti pendopo. Kang Obay sudah standby menyambut antusias kedatangan kami. Ia pun mempersilakan duduk begitu saya pinta waktunya sebentar untuk menanyakan banyak hal.

Pusat Konservasi Elang Kamojang berdiri sejak tahun 2014 sebagai hasil kerja sama antara Kementrian Lingkungan hidup, Kementrian Kehutanan, Balai Besar Pusat Sumber Daya dan Pertamina Geothermal Energy sebagai donatur utama Pusat Konservasi Elang Kamojang.

Pusat Konservasi juga terbuka untuk umum jadi tidak perlu khawatir harus mengeluarkan biaya masuk ke sini. Siapa saja bisa mengenal Elang lebih jauh dan diskusi dengan para teknisi lapangan yang menjadi tim edukasi di Pusat Konservasi. Akan tetapi ada aturan khusus yaitu menyerahkan surat kunjungan yang diberlakukan untuk pihak sekolah.

Dari piagam yang terpampang di studio adalah bukti banyak dari pihak sekolah yang membawa siswa melakukan wisata edukasi di sini. Masing-masing perwakilan sekolah menitipkan cendera mata yang memeriahkan suasana di dalam ruangan.

Kang Obay mengizinkan saya dan teman-teman untuk membidik dan melihat apa yang ada di dalam studio. Ada beragam jenis Elang yang diabadikan dalam gambar tak terkecuali Elang-Elang yang ada di area display. Tak hanya itu, saya pun bisa mengetahui keberadaannya di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Rasanya seperti berada di ruang yang tak bertepi bersama Elang-Elang JawaNisaetus Bartelsi hingga Sikep Madu AsiaPernis Ptilorhynchus.

Setelah cukup puas di studio, kami akhirnya meninggalkan ruang eksklusif dan menuju area display. Ada 10 kandang berjejer rapi dengan masing-masing di isi lebih dari satu Elang. Idealnya memang satu kandang itu harus diisi dengan satu Elang akan tetapi belum ada ketersediaan kandang lagi untuk jenis Elang yang lain. Karena Elang-Elang yang disimpan di area display hanya ada 5 jenis Elang di antaranya Elang Jawa Nizaetus Bartelsi, Elang Bondol Nisaetus Cirrhatus, Elang Ular Ras Jawa Spilornis Cheela Bido, Elang Sikep Madu Asia Pernis Ptilorhynchus dan Elang Ular Ras Kalimantan Spilornis Cheela Richmondi

Melihat Elang adalah seperti melihat diri yang di kemudi oleh mimpi. Sebagaimana saya ingin memeliharanya namun sampai sekarang belum terpenuhi. Elang adalah simbol keberanian dan kehidupan yang terarah begitu saya dapati makna dari matanya yang tajam. Seperti itu juga dirimu yang harus selalu berusaha tidak takut berjalan bahkan terbang sendirian.

Terbanglah seperti elang dan bebas menukik kemanapun kau mau. Elang selalu tahu cara bertahan hidup bahkan jika harus melewati badai besar menerpa dirinya.

Kalau kamu pernah menonton film yang diadaptasi dari Novel Bidadari-Bidadari Surga karya Tere Liye, pasti sudah mengenal Yashinta yang diperankan oleh Nadine Chandrawinata kan? Seorang perempuan tomboi yang senang bermain dengan Elang dan salah satu Elang yang ia pelihara adalah Elang Bondol.

Tepatnya saya ingin sekali memelihara Elang Bondol karena memiliki karakter yang mencolok dari Elang lainnya. Elang Bondol juga terlihat jinak dan tidak terlihat mengerikan seperti Elang-Elang lain begitu perpaduan putih dan coklat membalut bulunya. Elang Bondol juga merupakan lambang pembawa keberuntungan bagi warga Jakarta walaupun keberadaannya hampir punah.

Di kandang ini pun ada 3 Elang Bondol dengan nama panggilan yang berbeda. Mindi, Delon dan Uncrit. Dari keterangan yang tertulis, Elang Bondol tersebut memiliki cacat pada sayap sehingga tidak bisa terbang dan kembali dilepas ke alam.

Elang Bondol memang memiliki karisma tersendiri dari perpaduan warna mencolok yang membedakan satu dan lainnya. Namun sejak pertama kali saya melihat area display, tatapan Elang Jawa begitu tajam memperhatikan lawan. Kedua matanya tajam dan terarah pada lawan seperti sebuah makna kebebasan dan integritas memang digambarkan dengan Elang Jawa ini.

Ada dua Elang jawa dengan nama panggilan Aki dan Gagah. Namun saya tidak tahu mana yang bernama Aki dan mana yang bernama Gagah, mungkin Elang yang sedang menatap saya ini bernama Gagah? Karena terlihat gagah dengan tatapan terarah.

Keduanya sama-sama memiliki kecacatan dengan kasus yang berbeda. Si Gagah yang tidak bisa terbang dengan baik karena mengalami kecacatan pada kedua sayap sama hal nya dengan si Aki yang tidak bisa berburu dengan baik karena kecacatan pada kedua matanya.

Persebaran Elang Jawa  tidak ada di pulau mana pun hanya ada di pulau Jawa dan rupanya menyesuaikan dengan nama identitas jenisnya. Benar saja, kegagahannya memang bukan sebatas dalam pandangan melainkan Elang Jawa juga dijadikan simbol satwa Nasional karena langka dan mirip dengan Garuda.

“Jadi  benar ya, kalau Elang yang mencatuk paruhnya adalah cara memiliki umur yang panjang? Setelah usia 40 tahun Elang akan dihadapkan dengan dua pilihan yaitu mati atau transformasi?”

“Pasti tahu dari artikel ya?” jawab Kang Obay lalu ia menyimpulkan senyumnya.

“Banyak artikel yang memberi jawaban seperti itu, dan sebenarnya tidak demikian karena yang namanya umur adalah urusan sang pencipta.” tutur Kang Obay kembali.

“Nah kalau Elang sering mencatuk paruhnya itu berarti elang menginginkan paruhnya lebih tajam.”

 

Apakah manusia bisa melakukan transformasi seperti Elang? setelah dihadapkan pada berbagai rintangan atau kepedihan hidupnya? setelah dibuat terpukul atas kecacatan dirinya? manusia bisa saja melakukan transformasi atau melakukan kembali revolusi harapan yang hampir menikam dirinya.

Kita bisa belajar banyak hal dari Elang yang salah satunya ‘bertahan’. Tidak peduli seberapa besar badai menghampiri dan menerpa perjalanan hidup kita, yang paling penting adalah fokus dan hidup terarah. Elang saja bisa melakukan itu mengapa manusia tidak bisa demikian?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑