Wajah-Wajah Baru di Ciwidey

06 Mei 2018,

Menjadi seorang pekerja kantoran rupanya sangat membosankan. Seperti kerbau dungu yang terpenjara dalam jeruji besi. Duduk di depan computer, bicara dengan customers, ditunjuk-tunjuk team leader, atau mondar-mandir ke atas bawah lantai perusahaan tidak juga memberi ruang yang ku harap bisa melenturkan otot-otot yang renggang. Hidup begitu keras saat uang menjadi orientasi dari salah satu pencapaian, memikirkan banyak uang dengan bekerja di kantoran malah membuat hati dan pikiranku sedikit cedera. Membuat tubuh seketika lumpuh tidak berdaya. Juga melupakan suatu karya yang sudah lama.

Tidak semua teman-teman memiliki frekuensi yang sama seperti ku. Pekerja kantoran begitu identik menghabiskan waktu di salon kecantikan, di bioskop atau belanja pakaian. Aku seperti orang-orang normal yang memiliki kebiasaan serupa, tapi tidak melakukan sesuatu yang memiliki entitas sama. Teman-teman sering bertanya kenapa tidak pernah ada angka 21 yang ku bagikan ke sosial media, dengan itu mereka tahu ada film seru yang sedang ku tonton hari itu. Mereka juga meminta ku sekedar jadi teman makan di pinggir jalan atau mencicipi pameran kuliner di malam minggu, lagi-lagi tolakan selalu membuat mereka kecewa .  Bagiku, semenarik apapun film yang sedang tayang di bioskop, suatu hari film-film itu akan tayang di Televisi. Dan makanan akan basi meskipun jaman tetap akan menyediakan makanan yang sama seperti hari ini. Ada yang lebih berharga sebelum usia ku menua, yaitu cerita. Sebesar apapun uang yang aku miliki atau tidak memilikinya sama sekali, uang tetap substansi yang relatif dimana aku bisa mencarinya lagi. Dan uang akan selalu bernilai jika aku menukarnya dengan pengalaman atau buku bacaan.

Aku menemukan orang-orang begitu sama. Mempertahankan sudut pandang mereka atau mengejek perbedaan semaunya. Tapi tidak semua kebanyakan membuat ku senyap sendirian, kata-kata dan nafsu berkelana selalu membuatku bahagia dan merasa ditemukan oleh siapa saja yang terkesima. Seperti seseorang yang ku temukan di kantor, dari ribuan pekerja semesta selalu menyediakan satu yang satu frekuensi dengan diri kita. Dari semua teman-teman diluar sana, dia menambah daftar pertemanan dari sejumlah orang-orang cukup unik lainnya. Teman-teman dan semua orang begitu unik dengan karakter dan kebaikan masing-masing. Tapi selalu ada satu diantara yang lain yang membuat kita nyaman bercerita dengannya.

Namanya Umi Fatimah. Dia seorang keturunan Jawa yang terlihat membelakangi pembaca di foto ini. Menggendong ransel 60 L sebelum ku jual pada kakak tingkat dari fakultas yang sama. Kalau mengingat ransel ini penyesalan selalu menyeruak dalam ingatan, di jual karena tidak sesuai dengan tinggi badan. Dan lupa, semua teman-teman dekatku memiliki seukuran tubuh yang sama, di atas tinggi badanku. Ransel itu bisa dipakai oleh mereka sewaktu waktu menemani perjalanan berikutnya. Kini predikat kerbau dungi benar-benar melekat dalam diriku.

pukul 07:00 WIB kami menempuh jarak yang cukup jauh menuju Bandung barat. Walaupun sama-sama tinggal di Bandung, jarak bukan suatu alasan untuk menemukan sesuatu yang kita cari. Di kota segala hal yang orang-orang cari mudah ditemukan dan serba ada, tapi tidak dengan sesuatu yang bisa mempertemukan kita dengan diri kita.  Bagiku kota dan bagunan beratap yang tersusun dari rukun warga atau tetangga hanyalah persinggahan. Sementara alam bebas adalah rumah, dan kembali ke laut atau gunung aku merasa pulang pada rumah yang sesungguhnya.

Beberapa barang sudah kami packing dengan rapi. Sleeping bag, jaket tebal, dua botol aqua besar, dan makanan siap melengkapi kebutuhan selama di perjalanan. Tidak ketinggalan juga beberapa kebutuhan perempuan ada di dalam tas slempang yang aku pakai.

Melakukan perjalanan dengannya seperti melakukan perjalanan tanpa tujuan, sebab waktu melarutkan kami pada pertukaran mimpi-mimpi atau cerita patah hati. Perjalanan tanpa tujuan terkadang selalu menyenangkan, kita lupa pada sebuah destinasi dan semesta memberi kita falsafah pada pemaknaan suatu perjalanan itu sendiri. Peristiwa ini sama persis ketika masih menyandang status mahasiswa masa tenggang. Seminggu sekali aku dan teman-teman membuang diri ke tempat-tempat sunyi, mendirikan tenda, mengumpulkan kayu, menyalakan api ketika hari mulai gelap, menghangati tubuh dengan minum kopi, lalu menunggu sinar matahari.

Cuaca berubah saat kami tiba. Dingin yang tidak kami pedulikan selain memburu lahan yang landai untuk mendirikan tenda. Jalanan cukup memusingkan kami dengan belokan yang luar biasa melelahkan, di dalam tenda kami bisa istirahat atau keliling di luar mendengar suit angin. Harapan-harapan itu diluar eksptektasi ketika semesta mempertemukan kami dengan orang-orang baru. Berdua ke alam bebas selalu menjadi perhatian orang-orang berkelompok, entah memamerkan kebersamaan atau berdua terlalu memprihatinkan. Asalkan jangan sendirian, hanya akan membuat diri kita seperti anak hilang.

Curug Mania Bandung adalah salah satu komunitas besar yang ada di Bandung. Dalam hati bertanya-tanya kenapa nama depannya harus curug. Curug adalah air terjun dalam istilah bahasa Sunda. Entah di kota atau di luar pulau Jawa, beberapa curug sudah ku jelajahi sejak masih jadi Mahasiswa. Dan Curug Mania Bandung memang fokus menjelajahi curug atau air terjun saja, mereka tidak terlalu memusatkan perhatiannya pada destinasi lain. Singkat jawaban yang aku dapatkan dari salah satu anggota mereka.

Mereka sangat terbuka dan ramah. Walaupun mencapurkan diri pada keramaian selalu butuh pertimbangan. Terkadang keramaian tidak selalu menyenangkan dan membuat nyaman. Tapi ada beberapa keramaian yang memang layak menjadi ruang kesendirian. Keramaian di atas gunung atau di dalam lautan, tidak pernah menjebak diri kita pada kepura-puraan. Keramaian di sana selalu apa adanya. Karena keramaian di sana hanya orang-orang pilihan semesta yang mengerti hakikat keberagaman.

Tidak mudah  meyakinkan Umi untuk bercampur  dengan mereka. Beberapa kenangan di ulang kembali seperti aku membawa diri demi menemukan kawan-kawan baru dan pemahaman-pemahaman baru. Umi mendengar antusias dari cerita-cerita perjalananku yang sebelumnya. Walaupun  ada beberapa penekanan kaidah-kaidah yang sebelumnya di temukan. Karena perjalanan tidak dilihat dari seberapa jauh mengunjungi tempat-tempat tapi seberapa besar pelajaran yang sudah didapatkan darinya. Umi terkesima, dan pada keramaian akhirnya kami bercampur bersama.

Seseorang menunjuk kami untuk memperkenalkan diri. Tentu saja kami menyanggupinya, perkenalan adalah jalan menuju suatu hubungan. Cinta, persahabatan, atau bahkan menjadi jalan menuju perpisahan. Perpisahan bukan suatu hal yang aku takuti, karena setelah ini hidup akan selalu membawaku pada pertemuan-pertemuan baru.

Seseorang juga meminta kami menceritakan filosofi kopi. Rupanya kopi begitu dekat dengan para pejalan. Meskipun kopi sudah lama ku hindari. Meminum kopi tidak selalu menjadi cara membantuku menyelesaikan perkara dalam kepala. Menyatukan makna dengan kata-kata. Kopi juga membantu para pejalan menyudahi kegundahan dalam isi hatinya.

Umi mencuri perhatian mereka dari namanya. Umi adalah sebutan untuk ibu dari bahasa arab. Tapi umi adalah seorang teman yang perhatiannya sama persis seperti ibu. Dia sangat peka pada dirinya. Itu kenapa dia sangat peka terhadap orang lain. Di Bandung, dia selalu bersedia memberikan kedua telinganya. Mendengar celoteh gila atau isi hatiku yang sulit ditebak apa maunya. Di hari minggu dia juga selalu menyelamatkanku dari dari krisis kejenuhan. Walaupun sekedar mengelilingi area pasar baru kemudian makan bakso bakar di Braga, atau beli kain ke Cigondewa. Aku paham bahwa menjadi diri sendiri dan hidup sederhana selalu memberi ruang untuk mengenal diri lebih jauh lagi. Kain-kain di Cigondewa menyajikan banyak pilihan, melabuhkan tujuan dari betapa dalam nya halusnya sebuah ikatan menjadi karya. Corak, warna, dan rupa kain selalu membuatku jatuh cinta. Tapi tidak dengannya, Umi mencari kain untuk memenuhi pelanggan dia yang kerap membuat kostum karakter. Di acara-acara besar atau festival busana, dia memamerkan karyanya.

Wajah-wajah mereka begitu unik dalam pandangan, menyublim pada  semesta seketika meriah dengan tawa, obrolan-obrolan sederhana dan beberapa mendirikan tenda. Mencari kayu, memetik gitar dan menyanyikan lagu. Kami selamat dari keterbatasan logistik yang dibawa alakadarnya. Dan kami merasa beruntung mendapatkan kawan-kawan baru, merayakan lara bersama, bertukar sosial media.

Mereka membangun tenda kecil agar kami tidur terpisah. Tenda dekat kayu yang berjajar rapi untuk membiarkan api membakarnya. Mereka memahami ketika bercampur bukan berarti harus melebur.

Malam tiba membawa kami pada kemeriahan seterusnya. Orang-orang berdatangan menambah jumlah yang kami kira hanya mereka saja. Mereka berpasangan, ada yang sudah resmi menjadi suami istri, atau hanya kencan  biasa mencumbui alam semesta bersama pasangannya. Atau jangan-jangan alam semesta menjadi tempat bercumbu mereka mereka berdua. Tapi bagiku malam tetap yang terbaik mencumbui kegelapan, dimana Tuhan selalu hadir diam-diam. Dan aku mencumbui Tuhan dalam renungan, pada tatapan yang tersungkur kedalam api membakar kayu. Melahapnya menjadi abu. Dari kejauhan, musik juga tetap mereka nyanyikan, menggema ke angkasa mensyahdukan pandangan yang sesekali terbuang pada taburan bintang . Aku hampir lupa kini kobaran api tidak lagi bekerja. Desir angin mematikan hangatnya. Cuaca di gunung semakin dingin. Tubuhku menggigil tidak seperti biasanya. Aku melarikan diri ke dalam tenda dan mengira terserang hipotermia. Dua lapis jaket tebal, balutan sleeping bag juga terasa sia-sia tidak meredakan degup jantung yang semakin berdebar. Kematian terasa begitu dekat seperti nadi yang semakin menciut membungkukan dada. Dingin yang menusuk merapuhkan tulang seperti cara izrail menjemputku pada kematian.  Malam semakin mencekam membuatku panik tanpa memberitahu mereka. Umi masuk ke dalam tenda tanpa ku minta. Memeluk erat dengan berbagai cara. Cara-cara yang anak gunung lakukan saat terserang kedinginan, tapi sama sekali tidak berlaku pada tubuhku. Dan Allah adalah kekuatan, Dia lebih dekat dari pada urat nadi, hembusan napas, alirah darah. Dia menyelundup menyalakan pijar dalam tubuhku. Dia begitu hangat, seperti Umi yang terus meniup-niup kedua telapak tanganku. Rupanya, (Dia)ingin ikut memeriahkan suasana. (Dia) ingin lebih dekat datang tiba-tiba, tanpa rencana. Dan aku selalu yakin, seburuk apapun kondisi, sepanik apapun situasi, (Dia) selalu ada bersama hamba-hamba-Nya.

Seorang lelaki dengan tubuh tinggi kemudian menghampiri kami. Menyapih dengan peka membawa segelas air panas. Dia berdiam diri cukup lama melihatku terkapar. Dan jawabku baik-baik saja, dia kembali pada kerumunan memberi tawaran agar aku meminta bantuannya jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Wajahnya begitu mendamaikan, masih terngiang sampai hari ini.

Umi merangkul ku sampai pagi. Ketika waktu menunjukan pukul 01:00 dia tertidur tanpa selimbut, tanpa alas kepala. Tubuhnya menahan gigil tanpa suara. Keadaan seperti ini selalu membuatku tidak tega, persis ketika melihat anak-anak tunawisma meminta-minta. Walaupun aku tidak menyamakan Umi dengan mereka, nurani selalu menunjukan jati dirinya bahwa aku juga manusia.  Melihat Umi, aku selalu yakin bahwa kebaikan adalah gagasan yang abadi. Melebih idealisme memaknai perjalanan atau kematian diluar dugaan. Seandainya Tuhan memberi ku kehidupan yang panjang, meramu kenangan adalah hal pertama yang akan ku lakukan. Karena sungguh, tidak ada yang lebih tulus dari seseorang selain dia meretas ingatan suatu jaman, meramu suatu kenangan, menuliskannya mengekalkan suatu makna dan mengabadikan suatu masa. Tapi apa yang bisa ku lakukan jika menulis adalah pekerjaan panjang seperti ibu yang sedang mengandung. Kita tidak bisa memaksanya melahirkan kecuali dorongan waktu dan endapannya. Setiap orang yang ku temui, setiap orang yang mengisi hari-hari begitu istimewa. Tidak cukup waktu satu hari untuk mengendapkan rasa pada mereka. Tapi sepanjang aku masih hidup, kata-kata akan selalu merekatkanku dengan mereka. Aku akan tetap menulis.

Umi menyeduh popmie pagi itu. Selain kopi, popmie juga sangat identik dengan para pejalan. Makanan instan itu cukup mengenyangkan, membebaskan kami dari kelaparan. Dia juga menggerutu saat aku membidiknya. Tidak ingin ada seorang pun yang tahu wajahny terexpose ke sosial media, padahal hanya iseng saja. Tapi dia akan selalu baik hati sekalipun diganggu berkali-kali. Atau wajahnya terexpose kali ini.

Makan popmie tidak membuatku kenyang sama sekali. Ada yang mengenyangkan jiwa dan pikiran ketika membuang pandangan pada mereka. Sejak di kampus atau di sekolah-sekolah sebelumnya, tidak ada satu pun komunitas atau organisasi yang aktif di geluti. Kebersamaan mereka menampar keras pentingnya arti kebersamaan. Menjaga kekompakan, dan menghargai perbedaan. Mereka terlihat begitu asik dengan dunianya, tidak peduli apa yang sedang terjadi di luar sana. Mereka hanya peduli ketika semesta menyatukannya pada kesenangan-kesenangan yang tidak dimiliki sebagian orang. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, yang pasti sejauh ini para pejalan tidak pernah membicarakan orang lain. Mereka selalu membicarakan destinasi-destinasi mana lagi yang akan di kunjungi.

Di alam bebas, usia tidak membedakan mereka dengan jati dirinya. Bahwa setua apapun manusia, bagiku mereka hanya anak kecil yang seutuhnya. Ada yang pandai petak umpat dengan dirinya dengan tidak menerima orang lain selain siapa yang mereka anggap istimewa atau selain siapa yang mereka percaya. Di area perbukitan lain beberapa orang juga mendirikan tenda dan Hammock mepelas lelah raganya.

Aku tidak tahu apa yang tengah mereka bicarakan, selain sama-sama berorientasi pada ruangan yang memberi kebebasan. keyakinan itu terbesit dalam hati ketika ku temukan para pejalan di tempat-tempat yang berbeda dalam himpunan yang sama, yaitu semesta. Bedanya, interaksi secara langsung dari pada sekedar mengamati memberi senese tentang citra seorang pejalan yang sesungguhnya. Mereka yang hidup ada adanya, terdefinisikan dengan jelas dari cara keinginan untuk membuai jiwa raganya dengan bergelantungan.

Aku menggosok-gosok kedua tangan mengalihkan perhatian. Matahari yang mulai merangkak naik melupakanku dari ingatan yang kekal saat pagi tiba. Sinar matahari, dan berjalan kaki. Aku dan Umi berjalan sekitar 30 menit dari pelataran tenda menuju tebing yang cukup tinggi, mereka yang membuntuti sudah lebih tahu ada keindahan matahari terbit di atas sana.

Seperti yang terlihat jelas dihadapanku adalah jiwa-jiwa tersirat karena  sinar matahari. Cahaya menjadi bias dalam tubuh yang gigil semalam, berharap tidak pudar begitu tiba di atas. Bayangan-banyangan mereka tidak hanya kekal dalam ingatan dan kenangan, juga dalam dokumentasi perjalanan. Mata sudah membidiknya lebih dulu, dengan keterbatasan ingatan yang suatu hari akan tersapu jaman. Setelah mereka, aku berusaha mengabadikan diri Umi yang melebur kedalam cahaya pagi hari. Langit terlihat kuning keemasan seperti senja yang belum waktunya tiba. Tetapi Tuhan tidak pernah basa basi diluar kesibukan Dia memaparkan segala karya-Nya termasuk keindahan. Tidak ada pagi atau sore, kami melebur dalam keindahan dan keberagaman hari ini.

Umi anaknya cukup anti dengan kamera apalagi sampai ketahuan ada orang yang mengabadikan fotret wajahnya. Dia akan sangat marah dan merasa privasinya terganggu. Kali ini aku hanya meyakinkan dia dengan alasan setiap kenangan tidak bisa diulang kembali. Termasuk kenangan yang mengikat persahabatan diantara kami. Galeri handphone sudah penuh dengan fotret dia dan semesta yang merangkum kebersamaan orang-orang berbeda, hampir tidak ada fotret diriku sendiri selain seseorang yang entah siapa membidiku tanpa permisi.

        Perasaan terganggu rupanya hanya sementara bagiku. Tidak ada yang layak di syukuri ketika diri menjadi perhatian mereka yang bahkan kita tidak kenal sama sekali. Entah diri menarik simpati atau bahan bully, sejauh ini alam semesta tidak pernah menipu diriku tentang kejujuran dan ketulusan. Tidak mungkin juga mereka menyalahgunakan fotret  diriku pada semabarang media atau sekedar lelucon belaka. Demi nama semesta dan pencipta, akulah ketiadaan dan Tuhanku muara segala keberadaan.

Seseorang yang mengabadikan diriku ketika melebur dengan cahaya, berada dalam kerumunan anak kecil yang entah dari mana. Aku menyapihnya dengan malu-malu mereka menjawab salamku. Kemudian dia tersenyum meminta agar bisa di foto bersama. Umi menghampiri sambil bersiut mengalahkan kicau burung yang merekam percakapan aku dan dia. Begitulah semesta, kadang terlalu apik mempertemukan seseorang tanpa sengaja, meskipun kita tidak pernah tahu apakah dia akan singgah atau sebatas memberikan pelajaran saja. Pertemuan singkat itu sama sekali tidak merusak hatiku, juga meluaskan harapku agar dipertemukan kembali dengannya.

Aku dan Umi membelokan arah percakapan juga waktu yang semakin siang harus segera dilabui kembali dengan perjalanan pulang.

Kali ini giliran kami yang basa basi menikmati sisa cahaya matahari yang sebentar lagi hilang. Orang-orang sudah puas mendapati apa yang mereka cari dengan kehangatan termasuk diriku sendiri. Dekat batu besar saat kami menjatuhkan percakapan-percakapan sederhana, tanpa sengaja jiwa kami terkena percikan cahaya. Dengan begitu, bayang-bayang yang terpapar sinar matahari adalah wujud dari jiwa yang sesungguhnya. Seseorang tidak akan pernah tahu keadaan jiwanya jika dia tidak memberikan ruang untuk mengenal jauh tentang dirinya. Seseorang tidak perlu memikirkan hal-hal besar untuk kemudian tahu bagaimana rupa jiwa mereka yang sesungguhnya. Terkadang hal-hal sederhana yang nampak kecil bagi kita justru memberi celah bagaimana kita menelusuri setiap apa yang ada dalam diri. Hal-hal kecil yang tidak disadari, yang kerap terlupakan selalu jadi jalan untuk mengungkap entitas diri dalam pandangan manusia.

Barangkali ini terkesan gila, namun begitulah hidup tidak melulu harus mempercayai hal-hal yang masuk akal. Karena buka hanya logika yang mengendalikan diri manusia, tetapi ada ruang yang dibungkus oleh hati, bernama qalbun salim. Aku yakin, seseorang tidak akan pernah menemukan makna tentangnya keculai sudah benar-benar mengenal diri sepenuhnya.

Pernahkah mendengar semesta berbicara? Bagaimana semesta bisa bekerja? Bukan hanya peredaran siang dan malam atau kekuatan masa dalam hitungan satuan waktu. Semesta bekerja sebagaimana diri kita adanya. Ia seakan menjadi refleksi dari apa yang kita ucap dan perbuat dalam hidup ini. Tapi, saat semesta bicara ia tidak sama dengan manusia. Di tempat ini, bahasa kembali hidup dengan jenis dan fungsi yang berbeda. Bukan hanya tulisan atau ucapan yang mudah dimengerti antar manusia, juga lingkungannya, atau sesama semesta itu sendiri tanpa melibatkan manusia. Para tumbuhan, hewan, sinar matahari dan langit yang begitu luas menaungi kami, mengantarkan bahasa mereka melalui semiotika. Ia bicara tanpa kita minta juga tidak untuk dimengerti atau diterima secara begitu saja. Daun-daun yang berjatuhan, ranting yang kering juga kayu yang semakin tua atau langit yang tiba-tiba bergelayut seakan memendam pilu. Alih-alih seorang pakar sociolinguistic, kemampuan memahami tanda-tanda sebetulnya tidak hanya berlaku pada ahli Humaniora. Hati yang terlalu sensitif, bisa saja mengalahkan teori yang menafsirkan segala perkara tentang tanda-tanda. Bagaimana tidak seseorang memahami lingkungan sekitar bahkan jika hatinya sudah lebih dulu melebur, rapuh di dalam tubuh.

Waktu memang menenggelamkan aku dan Umi dalam percakapan gila juga sederhana. Tetapi waktu juga tidak menutup kesempatan untuk membawaku melakukan percakapan dengan diri. Selalu saja hadir tanpa diminta, waktu seakan sudah bekerja sama dengan semesta untuk memecahkan segala pertanyaan dalam kepala, juga taksiran dalam setiap tatapan yang kembali di renungkan.

Kami duduk setelah beberapa jam berdiri dan mondar mandir. Membuang jauh tatapan pada guratan kemuning yang semakin pudar. Sesekali membuang tatapan yang dekat dengan diri ku sendiri, memandang jari-jari kaki. Hal sederhana yang sering dilupakan karena membuat sebagian orang begitu jijik tentangnya. Tapi tidak denganku. Jari-jari kaki terlihat lebih manis saat dirawat secara berkala. Jari-jari kaki begitu mungil untuk dibenci hanya karena menopang pijakan diri kita. Tetapi begitulah sesuatu yang hilang dalam diri kita, tidakah menyadari arti kesederhanaan dalam diri? Kenapa harus jijik dengan sesuatu yang ada dalam diri kita hanya untuk terlihat sempurna di mata orang lain?

Percakapan dengan diri ku tidak lama. Aku dan Umi segera turun dari bukit untuk mengemas barang-barang kemudian pulang. Besok kami harus kembali menjadi kerbau dungu yang diperbudak kerjaan. Sebenarnya tidak terlalu merumitkan juga masalah pekerjaan, akan tetapi waktu yang cukup singkat untuk melakukan perjalanan. Sesingkat hari ini saat mereka meminta kami untuk mengabadikan diri  bersama sementara waktu membuat kami merasa terburu-buru.

Perjumpaan tanpa rencana entah pekan atau tahun ke berapa lagi di pertemukan, aku percaya waktu akan selalu membawa risalah baru pada orang-orang yang berbeda. Mereka mungkin saja hilang, meninggalkan tawa, sapaan, tukar social media atau bahkan tidak sempat bertukar kontak informasi, tapi waktu sudah merekam mereka dalam ingatan juga kenangan. See you when I see you

0 thoughts on “Wajah-Wajah Baru di Ciwidey

Add yours

  1. Waaaah gila sihh
    Aku ga tau kisah yg lain mungkin karena ini nyeritain tntang kita, hanya haru yang ku punya 😭
    Teringat kenangan lama kita
    Mnyesali bnyk waktu yang aku buat sia sia
    Harusnya lebih banyak cerita lagi yg bisa kita bagi bersama

    Aku cuma butuh Rina lusiana
    Buat bkin si Aku yg penakut ini bisa punya bnyk lagi ke kenangan Gilaa 😜
    Love you so much yuunk
    Tulisan kmu gilaaa luar biasa sihh…👍👍👍

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑