Situ Lengkong Dan Sejarah Yang Berseberangan. Prabu Sanghyang Borosngora, Gerakan Militer Belanda I

Empat tahun yang lalu saya pernah ke Situ Lengkong bersama teman-teman SMA. Rudi, Yusi, Iis, Dea, Anisa, Nurlina Martini. Bagi kami Situ Lengkong adalah tempat wisata yang cukup mewah di 2013. Situ Lengkong yang menyimpan banyak sejarah namun saya tak tahu pasti jalan ceritanya selain menjadikan tempat pelarian dari rumitnya pelajaran-pelajaran di sekolah.

“kalau kamu menempati suatu tempat, maka kamu harus tahu sejarahnya”.

Apa yang dikatakan seseorang pada saya itu benar adanya. Rasanya malu sekali saat menjejaki tempat lama tapi tak tahu apa-apa sedangkan sejarah telah ditulis dengan jelas oleh orang-orang yang antusias. Orang-orang membangkitkan sejarah dan membagikan nilainya dalam buku-buku pelajaran sekolah atau artikel-artikel di google pencarian.

“Bu, tau enggak kenapa tulisan Selamat Datang di Situ Lengkong berwarna kuning?” ibu tak menghiraukan pertanyaan saya. Tak penting baginya kenapa tulisan itu berwarna kuning di latar belakangi cat tembok warna biru tua. Di pintu masuk sebelum ke pelataran Situ, kami disambut tugu berukuran sedang yang masih berdiri kokoh di samping sederet pedagang aksesoris.

Ada yang lebih mencuri perhatian ibu saat kami tiba di pelataran Situ Lengkong yaitu monumen bersejarah yang ditandai dengan kepala Harimau. Sebagai salah satu tempat wisata yang ada di Panjalu, patung Harimau tak hanya menandai Situ Lengkong  namun hampir di beberapa sudut kota ini. Sekelumit kisah Harimau Panjalu adalah hubungan kerajaan besar di pulau Jawa yaitu Majapahit dan Padjajaran. Pikiran saya menelisik lebih jauh kenapa beberapa kota di tanah Sunda di sebut Siliwangi dan di Jawa di sebut Brawijaya? mengenal lebih jauh pada kota-kota dan pulau yang di sebut Siliwangi dan Brawijaya ternyata merupakan sebutan bagi raja-raja di pulau tersebut. Siliwangi adalah sebutan untuk raja-raja di daerah Sunda yaitu prabu Siliwangi sedangkan Brawijaya adalah sebutan untuk raja-raja di daerah Majapahit yaitu prabu Brawijaya.

 

Saya dan ibu berjalan mendekati tugu untuk membaca apa yang disampaikan dalam tulisan itu. Dengan mata yang jeli, sederet tulisan memuat peristiwa penting pada 1947.  Waktu yang tak memburu kami akhirnya bisa memutar kembali ke masa yang pernah terjadi, di mana pada 1947 masyarakat Panjalu sedang melakukan lingkaran atau daerah pertahanan yang dalam bahasa Jerman disebut Wehrkreise. Panjalu menjadi markas dua kelompok besar sub Wehrkreise saat gerakan militer Belanda ke-1. Wehrkreise 2 dipimpin oleh devisi Siliwangi dan sub Wehrkreise ke 2 dipimpin oleh mayor Akil Prawiradireja.

zaman sekarang internet sangat memudahkan kita untuk mengakses kembali ke masa lalu dan mengenal orang-orang dalam sejarah. Mengenal Akil Prawiradireja, saya pun kembali bertanya-tanya siapakah ia. Akil Prawiradireja adalah mantan kolonel yang berseberangan dengan para perwira Siliwangi yang mendukung pemerintah pusat. Akil Prawiradireja lebih memilih untuk ikut memperkuat pertahanan Sumatera pada Mei 1948 dari pada di tanah kelahirannya sendiri. Akil juga menyertai Hatta ke Bukitinggi November 1948 dengan keterlibatan itu pun hubungan antara Akil dan perwira Sumatera menjadi erat.

https://www.kompasiana.com/jurnalgemini/552c03d66ea834041e8b4583/bandung-1957-13-perwira-siliwangi-yang-berseberangan-peristiwa-cikini-semangat-nasionalisasi-perusahaan-belanda-menjelang-akhir-tahun

Tokoh berikutnya tercatat Wadan sub WEHRKREISE Kapten Djuhro Sumita Dilaga tugasnya mengkoordinir pejuang bersenjata di sekitar gunung Sawal.  Dan Detasemen WEHRKREISE 2 di Panjalu yaitu Aboeng Koesman dan Detasemen WEHRKREISE 2 di Cikoneng yaitu Djamhir Pardjaman.

Situ Lengkong dengan ciri khas berbeda dari situ-situ lainnya yaitu dipenuhi barisan pedagang yang rapi.  Di pelataran Situ pun hampir tak terlihat satu sampah berserakan meramaikan kunjungan. Epiknya panorama Situ Lengkong juga ditandai pohon beringin di sebelah kiri tepat empat tahun  lalu saya dan teman-teman berteduh di bawahnya. Hari ini pun di kerumuni anak-anak bergelantungan pada ranting-ranting kering yang merambat di pinggirnya.

Sebelum tiba di sana, Situ Lengkong terlihat jelas dari atas tempat parkir. Airnya jernih meski berkali-kali di belah perahu membawa rombongan menuju hutan larangan. Saya dan ibu berencana untuk masuk ke hutan larangan, tapi rupanya petugas Situ Lengkong membatasi tamu yang hendak masuk ke dalam sana. Selama pandemi ini beberapa tempat wisata memang di buka tapi hanya membatasi pengunjung termasuk Situ Lengkong. Sementara kedatangan para wisatawan sudah menjadi akses rezeki bagi para nahkoda yang memanfaatkan perahu sebagai alat mata pencaharian.

Perahu-perahu lain bersandar saat para pengunjung selesai menunaikan hajat mereka di hutan larangan. Pengunjung yang akan tirakat, bersemedi atau sekadar refreshing menikmati suasana tengah hutan yang teduh dan asri, wajib melewati situ (danau) Lengkong seluas hampir 40 hektar tersebut. Hutan larangan atau yang disebut Nusa Pakel merupakan pulau kecil tempat di makamkannya raja Islam Padjajaran bernama Prabu Harian Kancana, yang tiap tahun ramai didatangi para peziarah dari seluruh nusantara. Dan Sebagai manusia yang hidup dengan keragaman budaya, ziarah kubur adalah pendekatan alternatif bagi sebagian orang yang percaya bisa menambah nilai spiritual dalam diri mereka.

“Airnya bening ya bu” seloroh  saya meminta ibu agar melihat airnya lebih lama.

“Dan riuh hutan dengan suara kelelawar juga tetap sama” jawab saya tanpa diminta siapa-siapa.

Adakah keberanian menyebut kelelawar saat di atas perahu? Kelelawar-kelelawar yang terbang dangkal di atas hutan itu memekakkan telinga menyambut kedatangan pengunjung. Penggalan mitos mengenai kelelawar masih lekat dalam benak saya sampai saat ini. Tak sedikit orang yang menyebut kelelawar  saat mereka di atas perahu dan akhirnya tenggelam di tengah sungai. Mitos itu pun disampaikan dengan apik oleh kawan-kawan saya yang tinggal di kawasan Situ Lengkong Panjalu.

Sejarah Situ Lengkong Panjalu tak hanya berhenti pada Gerakan Militer Belanda I saja. Ada yang lebih mencuri perhatian saya termasuk para pengunjung yang bertujuan masuk ke hutan larangan. Mereka sangat tertarik dengan perjalanan putra ke dua dari Prabu Cakradewa yang bernama Sanghyang Borosngora. Seorang pemuda yang telah disiapkan menjadi patih dan senapati kerajaan (panglima perang). Oleh karena itu Sanghyang Borosngora pergi berkelana, berguru kepada para brahmana, petapa,resi, guru dan wiku sakti di seluruh penjuru tanah Jawa untuk mendapatkan berbagai ilmu kesaktian dan ilmu olah perang.

Setelah ia pulang dan kembali ke kaprabon, Prabu Cakradewa meminta Sanghyang Borosngora untuk melakukan atraksi ilmu perangnya bersama kakaknya yaitu Sanghyang Lembu Sampulur. Setelah atraksi di mulai, tak sengaja kain yang menutupi betisnya tersingkap dan terlihat jelas tato yang menunjukkan si pemiliknya menganut ilmu hitam. Hal itu membuat Prabu Cakradewa kecewa karena tak sesuai dengan prinsip hidup masyarakat Panjalu yaitu mangan kerana halal, pake kerana suci, tekad-ucap-lampah sabhenere dan Panjalu tunggul rahayu, tangkal waluya.

Dari hal berseberangan itu pun Sanghyang Prabu Borosngora diminta Prabu Cakradewa untuk mempelajari ilmu sejati ke tanah suci.  Ia tak membawa apa-apa selain dibekali gayung batok kelapa yang dasarnya dipenuhi lubang-lubang sehingga tak bisa menampung cidukan air. Kilas balik perjalanannya ia lalui dengan baik dan menimba ilmu kepada Sayyidina Ali Bin Abi Thalib. Setelah ia berhasil menimba ilmu sejati dan mengislamkan dirinya di tanah suci,tibalah ia di kawasan pasir Jambu di mana air zam-zam dalam batok kelapa itu tumpah dan menjadi cikal bakal air Situ Lengkong. Kedatangan itu disambut suka cita oleh Prabu Cakradewa ketika mendapat kabar baik bahwa Sanghyang Borosngora resmi memeluk agama islam dan mulai meyiarkannya ke kerabat istana. Setelah itu ia pun mengembara ke arah barat melewati daerah-daerah yang sekarang bernama Tasikmalaya, Garut, Bandung, Cianjur dan Sukabumi.

Dengan mencari tahu apa yang sebelumnya tak di pahami, kini tak ada lagi salah tafsiran mengenai sejarah. Sejarah kadang tersembunyi bahkan hilang dan hanya dengan melakukan pendekatan maka ia akan ditemukan. Walaupun, menghidupkan kembali sejarah adalah hal yang berseberangan karena hanya orang-orang di dalam sejarah yang tahu persis kejadiannya seperti apa, itu pun tak semua dari mereka. Raja-raja di tanah Sunda akan berseberangan dengan raja-raja dari tanah Jawa atau saudara kandung yang tak sejalan menguasai wilayah dan memegang tahta istana. Bahkan saya sedang berseberangan dengan sumber-sumber untuk menarasikannya.

Sejarah itu seperti benang yang harus di sulam menjadi karya,  dan untuk mengetahui rupa dalam sejarah kita hanya perlu menjelajahinya.

4 thoughts on “Situ Lengkong Dan Sejarah Yang Berseberangan. Prabu Sanghyang Borosngora, Gerakan Militer Belanda I

Add yours

  1. Menarik teh, apalagi pas Sanghyang Borosngora memeluk dan menyebarkan agama islam ke istana, lalu berjalan ke arah barat melalui Tasik – Garut, dll. Mungkin ada kaitannya dg tokoh2 yg ada di daerah sini juga 😄. Atau mungkin, sama makam mbah dalem Arif Muhamad yg di Cangkuang.

  2. Cerita yang sangat menarik mengenai sejarah panjalu, Rajanya Prabu Borosngora yang begitu melekat dengan penyebaran agama Islam di wilayah ciamis, tasik dan sekitarnya.. Di lanjutkan ya teh rina mengenai sejarah hubungan kerjaan panjalu dan Kerajaan sumedang

    Good Job sukses selalu 👍👏💪

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑