Menyirnakan Diri Dari Silaunya Dunia

Menyirnakan diri dari silaunya dunia berarti menghilang atau melenyapkan hasrat dari pada realitas-realitas kehidupan. Memiliki jabatan, kedudukan, uang banyak, rumah mewah, pergi ke mana pun lalu membeli hal-hal yang seketika terbayang dalam pikiran adalah gejala optik yang tampak pada permukaan panas terlihat seperti genangan air.

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.

QS. Al-Hadid: 20

Dunia memang sangat menggoda karena ketersediaan miniatur alam semesta. Lebih dari pada sesuatu yang nampak seperti zat yang sudah ada sejak awal mula penciptaannya. Gedung-gedung pencakar langit, makanan khas Nusantara hingga mancanegara, hiburan malam, gunung-gunung tinggi hingga lautan-lautan dalam. Rasanya hampir tak ada satu pun yang kita inginkan di dunia ini yang tak tersedia.

Sebagai pengagum keindahan dunia, saya sangat mencintai pekerjaan dan ilmu pengetahuan. Jika sebelumnya memiliki satu pekerjaan sebagai pendidik, kini pekerjaan-pekerjaan sampingan mulai di geluti sebagai jalan mendapat banyak uang. Dengan memiliki banyak uang maka keinginan-keinginan lain bisa terpenuhi tak terkecuali keinginan menjalin hubungan jangka pendek hingga jangka panjang yaitu pernikahan, dan keinginan-keinginan lain seperti bepergian lebih jauh hingga benua Eropa atau menghabiskan sisa waktu bekerja untuk mengelilingi Indonesia.

Saya tak tahu apa yang menyebabkan beberapa orang ingin menghilang dari kerumunan kemudian memangkas hasrat memiliki. Sebagai orang yang pernah di kecewakan, di sia-siakan, ditinggalkan, saya memilih menyirnakan diri dari silaunya dunia karena alasan yang saya tahu itu akan membuat diri saya menjadi pribadi lebih baik.

Pada akhir 2017 saya pernah diminta datang ke rumah teman untuk mengerjakan tugas akhir (skripsi) miliknya. Kami bukan sekadar diskusi inti sari tugas akhir saja melainkan tentang keinginan-keinginan di dunia yang tidak ada ujungnya.

The world is prisoner for believer–  seloroh dia saat dia tahu saya masih mengejar impian dari pada memikirkan pernikahan pada saat itu. Namun setelah kami berpisah dan saya pindah ke Bandung karena mendapat karir sebagai pekerja kantoran, saya merasa berada di titik kehidupan yang melelahkan. And I do believe what she told to me a few years ago and I realize that word is what Bukhari Muslim reminded off.Di tahun itu pun rasanya kehidupan semakin keras mulai dari tekanan pekerjaan, romantika, dan keluarga. Entah karena faktor dunia yang semakin tua atau usia saya semakin berkurang dan menua, jadi beban hidup pun semakin berat seiring berjalannya waktu.

Sebagai orang beriman dunia adalah penjara di mana mereka tidak bisa melakukan apa pun sebab telah ditentukan batasan-batasan yang tidak boleh dilampaui. Namun jika mereka melampaui maka ada sangsi dari aturan yang telah Tuhan tetapkan di mana kenistaan adalah sebuah keniscayaan.

Sesungguhnya Allah telah menentukan batasan-batasan, janganlah kalian melampauinya. Juga menetapkan perkara-perkara wajib, janganlah kalian menyia-nyiakannya. Selain itu, juga mengharamkan beberapa hal, jangan pula kalian melanggarnya. Dan mendiamkan beberapa macam perkara, bukan karena lupa, tapi sebagai bentuk kasih sayang kepada kalian, maka terimalah dan janganlah kalian mencari-carinya.” (HR. Hakim).

Tanpa disadari batasan-batasan itu yang membuat orang-orang beriman tersiksa sejauh ini. Tapi saya tidak tahu apakah keimanan berkaitan dengan agama, Tuhan, dan kebebasan?. Seseorang yang tidak beragama akan menyakimi bahwa ia menjadi pribadi lebih baik saat hidup tanpa atribut keagamaan, dan seorang atheis percaya bahwa Tuhan hanyalah ilusi yang tak ada baginya. Bukankah mereka yang tak beragama dan tak bertuhan juga sangat tersiksa dengan jawaban-jawaban dan pilihannya? Begitu pula bagi mereka yang bertuhan dan beragama, sudah pasti tersiksa oleh batasan-batasan yang ia patuhi karena Tuhan dan agamanya.

Sebagai pekerja sastra yang identik dengan kebebasan, penderitaan adalah entitas utama sebuah karya yang melahirkan ia sebagai seorang sastrawan. Itu juga yang dirasakan para seniman lain seperti pelukis dan penyanyi. Rara sekar, sebagai musisi indie menyampaikan isi hatinya bahwa seorang seniman perlu merasakan penderitaan yang dalam agar karya mereka bisa sampai ke pembaca dan pendengar. Namun saya tidak tahu apakah seorang Sapardi Djoko Damono merasakan penderitaan yang dalam sepanjang hidupnya? Orang-orang sangat ramai menyambut hujan bulan Juni atau rela tersiksa dengan cinta yang tak pernah sampai seperti kayu menjadikannya abu. Namun sebagai penulis saya juga sering tersiksa karena kelebihan ide atau gagasan jika tidak direalisasikan. Betapa penderitaan-penderitaan para seniman lainnya juga sampai dari lantunan musik dan kebebasan berimajinasi dalam lukisan atau memainkan peran.

Kehidupan adalah dinamika yang rumit jika sekadar mencari tahu apa yang ada di balik pertanyaan “mengapa?” Setiap orang punya kebahagiaan dan penderitaan yang memenjarakan dirinya atas segala persoalan dan jawaban. Jalani saja.

“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim).

Menyirnakan diri dari silaunya dunia tak selalu tentang ketiadaan yang membuat seseorang menghilang. Jika Siddhartha Gautama memilih pergi dan meninggalkan seluruh harta kekayaannya, maka seorang muslim hanya perlu menjadi seorang Al-Ghuraba (terasing) dari kebanyakan orang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بَدَأَ اْلإِسْلاَمُ غَرِيْباً، وَسَيَعُوْدُ كَمَا بَدَأَ غَرِيْباً، فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam diawali dengan keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana awalnya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.”

Dan diriwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلَّذِيْنَ يُصْلِحُوْنَ عِنْدَ فَسَادِ النَّاسِ

“Yaitu, orang-orang yang senantiasa memperbaiki (umat) di tengah-tengah rusaknya manusia.”

Menyirnakan diri dari silaunya dunia yang didasari dengan ilmu dan iman adalah pilihan.  Mengasingkan diri hanyalah batas yang menjembatani antara realita dan idealisme bawah ada ruang yang tidak selalu dimasuki oleh orang lain melainkan diri dan sang pencipta, ruang yang tidak bisa sembarang di retas melainkan memberikan dampak terhadap perubahan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑