Mengapa Seseorang Memilih Hidup Tanpa Keturunan?

Membahas childfree atau keinginan tidak memiliki anak tidak berhenti pada sudut pandangan agama saja. Islam mendorong kuat agar pasangan suami istri memiliki keturunan seperti yang di katakan Rasulullah SAW “Tazawwajuu al-waduda fa-inni mukaasyirun bikumul-umam.” Yang artinya, “Nikahilah perempuan yang pencinta yang dapat memiliki banyak anak, sebab sesungguhnya aku akan berbangga dengan (banyaknya) kamu di hadapan umat-umat terdahulu”

https://www.muslimterkini.com/kolom/pr-90988070/keputusan-childfree-dan-anjuran-islam-untuk-memiliki-keturunan

Bagaimana dengan agama lain yang berseberangan dengan kita? beberapa dari kita bahkan hidup tanpa agama namun mereka mampu menimbang baik agar istilah childfree tidak lagi menjadi polemik mengerikan di kalangan perempuan.

Saat pasangan suami istri memutuskan chidfree bukan berarti pilihan mereka telah menyimpang dari agama dan mempermalukan perempuan sebagai makhluk yang bisa melahirkan,tetapi ada beberapa alasan yang menyebabkan pasangan tersebut memutuskan childfree.

Childhood Trauma

Saya pernah mengenal seseorang yang menutup diri termasuk pada laki-laki untuk masuk ke dalam hidupnya. Alasan kuat yang membuat dia tidak bisa menerima dan menutup diri adalah sulitnya berdamai dengan diri karena Childhood Trauma Experience pengalaman trauma masa kecil.

Mendengar cerita dia, saya jadi mengenal banyak anak dengan Childhood Trauma Experience yang berbeda. Mereka tumbuh membawa ingatan-ingatan masa lalu dengan berbagai kasus seperti abandonment (pengabaian), sexual abuse (kekerasan seksual), physical abuse (kekerasan fisik), witnessing abuse of a sibling or parent (menyaksikan pelecehan saudara kandung atau orang tua), dan having a mentally ill parent (memiliki orang tua yang sakit mental).

https://rinalusiana.com/happiness-during-wandering/

Masa kecil adalah masa paling krusial di mana peran orang tua akan memberi dampak besar di kemudian hari. Anak-anak yang bahagia sejak kecil lebih cenderung terbuka dan percaya diri dari pada anak-anak yang memiliki banyak keterbatasan seperti kurangnya waktu bersama orang tua atau mengalami trauma pada masa kecilnya.

Berambisi Mengejar Karir

“You only live once,so live a good life”- Shane Filan

“Life is just once, do what you want to do”-Unknown

Menjadi orang sibuk dengan pekerjaan impian dan memiliki jabatan tetap bukanlah tipuan hidup yang serba kekurangan. Dan pasangan yang memiliki karir pun selalu percaya bahwa kebahagiaan adalah menciptakan waktu luang dan liburan. Tidak peduli berapa jumlah uang yang dihabiskan di akhir tahun atau seberapa jauh negara  yang ingin di kunjungi sebagai destinasi impian mereka. Bagi mereka kebahagiaan adalah senyawa biokimia yang diciptakan dari banyak uang dan jalan-jalan tak terkecuali bagi seseorang yang masih single yang menunda pernikahan bahkan tidak ingin menikah sama sekali.

Tidak ada satu orang pun yang ingin dibuat rumit oleh hal-hal yang pasti akan dipertanyakan oleh orang lain seperti menikah dan childfree. Saat hidup hanya satu kali dan banyak tempat-tempat indah yang ingin kunjungi, “do what you can do and be free” rupanya sudah masuk ke dalam pikiran bawah sadar untuk menikmati hidup sebelum mati. Prinsip itu sudah lumrah dan saya menemukannya di mana-mana dalam diri siapa pun itu.

Self Love Priority

Self love atau mencintai diri sendiri adalah apresiasi tinggi ketika seseorang ingin selalu memberikan yang terbaik untuk dirinya. Istilah self love sudah dikonseptualisasikan sebagai kebutuhan dasar manusia dengan berbagai konotasi; kesombongan dan keegoisan. Namun sampai saat ini orang-orang percaya mencintai diri adalah bentuk menghormati diri dan tindakan preventif dari cacat mental dan moral.

Bagi saya, Self love yang tidak didasari dengan keimanan atau ilmu pengetahuan bisa menyesatkan siapa saja karena alasan menghormati diri. Seperti pasangan yang egois satu sama lain karena cenderung saling mendominasi akan sulit menerima kehadiran sosok baru dalam hidup mereka karena mempermasalahkan siapa yang akan jadi pengasuh anaknya.

Sebagian pasangan menganggap anak adalah perusuh dan pembuat gaduh. Saat anak merengek dan tidak bisa lepas dari orangtuanya, tidak semua keadaan seperti itu bisa diatasi dengan baik oleh setiap pasangan. Bisa jadi karena seseorang sudah mencintai diri sepenuhnya sehingga dan tidak terbiasa dengan kerumitan yang seperti itu.

Finansial

Memiliki anak adalah tanggung jawab paling besar di mana proses pertumbuhannya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Mulai dari sandang, pangan, kesehatan hingga pendidikan. Pasangan yang belum resmi jadi suami istri pun sering menjadikan finansial sebagai pertimbangan mereka menunda pernikahan. Menikah di zaman sekarang yang identik dengan kemewahan akan sulit di lakukan dengan alasan keluarga dan lingkungan sedangkan kehidupan yang akan mereka jalani adalah setelah pernikahan.

Faktor finansial menjadi salah satu alasan kenapa pasangan tidak ingin memiliki keturunan karena hidup seorang anak tidak berhenti saat ia telah dilahirkan. Walaupun mereka menyadari bahwa rezeki memang sudah diatur oleh Tuhan tapi tidak semua pernyataan itu diyakini oleh beberapa kalangan sehingga memiliki anak masih jadi hal menakutkan.

Ilmu Parenting

Pernahkah menanyakan banyak hal tentang orang tua termasuk kesiapan mereka sebelum melahirkanmu? adakah tanya yang terbesit apakah orang tua paham istilah parenting?. Tidak semua orang tua paham dengan istilah parenting bahkan saya sendiri mendengar kata itu di usia 20.

Anak-anak itu seperti kertas putih kosong yang bisa dihiasi dengan tulisan atau coretan. Tulisan itu bisa menjadi indah atau sebaliknya tergantung peran orangtua yang mengasuhnya. Zaman sekarang banyak orang tua membiarkan anak mendapatkan pola asuh dari orang lain saat tidak siap menjalani proses pengasuhan. Seperti perempuan karir dengan keterbatasan waktu  pada akhirnya memilih menitipkan anak kepada orang lain atau perempuan dengan status Ibu Rumah Tangga pun akan merasa terganggu dan  mengeluh saat anak mereka rewel lalu menangis.

Fakta buruknya anak sering mendapat perlakuan tidak baik sebagai pelampiasan dari emosi orang tuanya. Tanpa ilmu parenting orang tua tidak akan tahu cara mengolah emosi anak saat marah atau menolak saat keinginan anak tidak bisa dituruti.Orang tua juga tidak akan menyadari kalau pola asuh anak akan berbeda dari perlakukan untuk anak laki-laki atau perempuan.

Setiap kebenaran yang disampaikan manusia bersifat nisbi sedangkan apa yang disampaikan oleh Tuhan adalah absolut. Bagaimana jika pasangan tersebut memang sangat menakuti “tanggung jawab” tidak bisa menjadikan anak lebih baik darinya? apakah mereka bisa di katakan menyimpang dari Tuhan?. Beberapa alasan itu menjadi jawaban mengapa pasangan memilih childfree dan tidak ada yang salah dengan setiap pilihan karena manusia bisa memilih apa yang sejatinya akan merugikan atau menguntungkan bagi mereka.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑