Jinaknya Rusa-Rusa di Ranca Upas

Ranca Upas atau Kampung Cai Ranca Upas adalah tempat wisata yang berada di daerah Bandung Selatan. Dinginnya tak bisa diajak kompromi bagi  siapa pun yang mempunyai alergi seperti hipotermia. Saya dan Umi baru turun dari Punceling Camp Ciwidey dan merasakan hangatnya sinar matahari di Ranca Upas. Sirkulasi tubuh yang semalam tak menentu akhirnya stabil ketika berjalan ke area konservasi rusa.

Orang-orang dari luar kota tak kalah gesit memborong wortel dan kangkung untuk makanan rusa, karena itulah cara membuat momen lebih menyenangkan di tempat seperti ini. Kalau tidak memberi rusa-rusa itu makan, siap-siap aja dengan kondisi yang membosankan! Kecuali kalau ada acara Pre-Wedding, so you only focus on your couple and captured by a photographer hehe. Tapi memang benar, Ranca Upas mempunyai spot bagus untuk melakukan Pre-Wedding apalagi kalau memburu sore hari atau Golden Hour. Ah syudahlaah bikin lapeer 😀

Walaupun harga tiket ke Ranca Upas sangat terjangkau sekitar Rp. 15. 000, tapi harga pengalamannya tak mudah di jangkau oleh rupiah sebesar apa pun itu. Puluhan rusa yang malu-malu di persembunyiannya menghampiri pengunjung yang membawa makanan, pohon-pohon tumbuh subur di bagian timur area perkemahan, dan udara yang lembab menyegarkan, adalah ruang pembebasan diri dari hiruk pikuk pekerjaan atau hal-hal yang membosankan.

Ada satu hal yang sangat bernilai bagi saya di tempat ini yaitu memahami anatomi rasa dalam tafsiran semiotika. Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tanda-tanda, tanda di alam semesta atau kode perasaan si dia, tergantung dari sudut mana menafsirkannya. Tapi yang harus kita tahu, hidup kita tak lepas dari bahasa isyarat atau makna-makna.  Seperti rusa yang disentuh manusia tanpa pembatas atau tanpa pawang yang menjaganya. Bukannya rusa itu hidup di alam liar? Dan setiap hewan yang hidup di alam liar itu buas? Jarak antara manusia dan rusa hanya terletak pada entitas makhluk hidup saja. Kita manusia dan mereka binatang, tapi sebagai makhluk hidup manusia dan binatang sama-sama menyampaikan bahasa untuk saling mengerti. Bahasa rusa atau hewan lainnya memang tak bisa kita pahami secara langsung, tapi setiap gerak dan suara selalu menandakan perubahan pada sejenisnya.

Sebagai kawasan hutan lindung, Ranca Upas merupakan tempat konservasi berbagai jenis tumbuhan langka seperti  Jamuju, Huru, Hamirug, Kihujan, dan Kitambang serta aneka fauna dan Rusa Timor. Sebelum dijadikan tempat konservasi, Ranca Upas merupakan kawasan perkemahan di ketinggian kurang lebih 1700 mdpl dengan luas 215 hektar. Tak hanya ada tenda-tenda yang dihuni pengunjung di bagian timur konservasi ini, ada pemandian air panas yang juga sangat diburu oleh para wisatawan. Meskipun menyediakan tempat pemandian air panas, bukan berarti cuaca di tempat ini gersang. Ranca Upas masih sangat alami dengan kedinginan bisa mencapai 17 derajat Celsius sampai 20 derajat Celsius. Saya pun merasakan malam hari berada di titik terendah 0 derajat Celsius.

I love engaging myself with the universe. A brilliance nature teaches me how to be an observer and it may be crazy even weird that animal and plant can speak, but it was. Their moving, a falling leaves, some old woods actually can’t speak directly, but they gives as a meaning. For me, meaning means something that is not directly expressed.

Apakah Indonesia memiliki rusa? di mana saja daerah persebarannya? Atau mungkin hanya tempat tertentu yang membuatnya bertahan? Pertanyaan menarik dari seorang lelaki pada temannya. Terdengar dalam telinga saya seperti angin begitu saja dan saya pun tak kalah mencari tahu jawabannya.

Ada banyak jenis rusa di Ranca Upas yaitu rusa Bawean, Sambar, Menjangan, dan Timor. Rusa Bawean yang memiliki nama latin Axis Kuhlili adalah rusa endemik yang mudah ditemukan di Bawean, yaitu daerah yang berada di sebelah Surabaya. Rusa Bawean memiliki tubuh yang relatif kecil dari jenis rusa yang lainnya. Walaupun kecil, karakteristik rusa Bawean ini cukup menarik di mana bisa lari paling cepat dari rusa-rusa lainnya.

Saya dan Umi terus membedakan mana jenis rusa Sambar, Bawean, dan Timor. Rusa Sambar yang katanya lebih besar jika dibandingkan dengan Bawean, bagaimana dengan rusa Timor?. Rusa Timor merupakan rusa asli Indonesia yang saat ini ada di Ranca Upas. Rusa Timor atau Cervus timorensis diperkirakan berasal dari Jawa dan Bali yang saat ini menjadi identitas fauna provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Pada umumnya rusa Timor bersifat poligamus yaitu satu pejantan akan mengawini beberapa betina dan melahirkan anak setiap tahun dengan sekali musim kurang lebih dua ekor.

Banyak induk rusa yang aktif di siang hari dan tak sedikit yang tertidur menghindari pengunjung walaupun diberi makan. Itu karena rusa merupakan hewan diurnal dan nokturnal tergantung kondisi habitatnya. Sebagai hewan pemamah biak ini, daun-daunan dan buah-buahan adalah makanan utama rusa timor. Mereka memakan berbagai daun muda, daun tua, atau mengejar-ngejar apa yang ada dalam genggaman kita.

Saya pun dibuat ketakutan dan lari karena mereka mengejar apa yang saya sembunyikan. Indra penciumannya yang tajam membuat rusa timor semakin penasaran pada pengunjung yang menghampirinya. Meskipun tak ada pawang, rusa-rusa di Ranca Upas sangat jinak jadi sangat rugi kalau ke tempat ini malah menghindari rusa-rusa itu. Saya berusaha peka seperti apa yang dikatakan para penjaga tempatnya. Yaitu, memberikan tepat pukul dua siang karena rusa-rusa di sini tidak akan keluar dari persembunyianya kalau belum waktunya makan.

Sebagai manusia, memiliki rasa yang peka merupakan anugerah paling besar dari-Nya. Bukankah segala yang ada di langit dan di bumi ini tiada henti bertasbih pada-Nya? Mereka yang selalu mengingat-Nya adalah mereka yang senantiasa menjaga keintiman intensitas perasaan terhadap Tuhan-Nya.

Rusa-rusa jantan lebih senang menampakkan dirinya dari pada rusa betina. Sedangkan rusa betina memilih sembunyi dan melindungi anak-anaknya. Yang membedakan rusa jantan dengan betina yaitu dari tanduknya di mana rusa jantan memiliki tanduk yang panjang dan rusa betina tidak.

Ada yang bilang rusa adalah hewan jinak karena hidup di alam liar. Ssebenarnya bukan karena habitat rusa berada di alam liar bisa di elus atau cium seperti yang orang lain lakukan di Ranca Upas, tapi ada panduan khusus cara memelihara rusa agar terkesan jinak. Beberapa cara di antaranya membuat rusa ini menjadi jinak yaitu tersedianya lahan penangkaran yang besar. Kalau kandangnya kecil malah akan membuat rusa semakin frustasi karena jauh dari habitatnya, yaitu kebebasan di alam liar. Selain menyediakan pakan, tempat minum, pemeliharaan pagar, ukuran kandang pun harus diperhatikan. Rusa-rusa memiliki rasa yang sama seperti manusia di mana mereka butuh makan, minum, dan tidur.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑