Catatan 80 Hari-Kesenjangan Moral Dini (Tanggung Jawab Siapa?)

Guru-guru sangat sibuk membicarakan mobilisasi sekolah dan tak sedikit yang menceritakan kehidupan pribadinya. Kebanyakan dari mereka sudah berkeluarga namun terhitung yang  baru memulai kehidupan rumah tangga. Ada yang saling mencintai namun tak sejalan perihal ekonomi, ada yang dipisahkan oleh jarak dan bertemu satu tahun sekali, ada yang tak mengkhawatirkan keduanya namun saling menuntut siapa yang lebih mendominasi. Rumit sekali, kalau saya perhatikan satu per satu wajah mereka sama sekali tak menunjukkan penderitaannya.

Mereka terlihat santai dan ceria termasuk kepala sekolah di Madrasah Tsanawiyah, namanya Pak Ehu. Ia duduk di samping wakil kepala sekolah bidang kurikulum namanya Pak Mumu Mudawan dan saya memberi salam pada keduanya juga guru-guru lain yang ada di kantor. Saya duduk di samping mereka karena tak ada satu pun kursi yang tersisa. Kepulan asap rokok mulai mengganggu membuat saya malah ingin beranjak tanpa basa basi, mengganggu sekali.

Sebagai kepala sekolah dan tokoh penting di masyarakat, Pak Ehu membicarakan banyak hal termasuk karakter siswa di sekolahnya. Ia menyinggung kesenjangan moral yang dialami siswa laki-laki remaja ketika mempermalukan guru perempuan di dalam kelas dengan bahasa-bahasa kasar dan jorok dirty talk. Tidak sedikit anak-anak dikeluarkan dari sekolah setelah ketahuan melakukan sexual abuse dengan pasangan atau guru yang dilaporkan orang tua mereka setelah ketahuan mengarahkan anak didiknya. Di sekolah-sekolah kota atau desa, masalah seperti ini rupanya masih menjadi wacana setelah dominasi kekuasaan dalam politik pendidikan. Siapa yang bertanggung jawab untuk memperbaikinya?

Di tengah pembicaraan, Pak Ehu minta saya agar menjadi guru tetap di sini, ia juga menjelaskan jenjang karir ke depannya jika saya bekerja sama dengan mereka. Pak Mudawan juga tak kelah berharap untuk kemajuan infrastruktur sekolah dan anak-anak bisa bersaing dengan anak didik dari sekolah lain dalam menguasai Bahasa Inggris.Pak Ehu menyimpulkan senyum dan menghangatkan suasana dengan menceritakan dirinya mengikuti tes CPNS. Ia berkali-kali mengikuti tes CPNS sampai jemu dan tak ingin mengikutinya lagi. Baginya, seseorang akan berhenti untuk peduli ketika melakukan hal serupa berturut-turut namun tak menghasilkan timbal balik sesuai keinginan.

“Menurut bapak, bagaimana caranya menerapkan pendidikan karakter? maksud saya pendidikan karakter berbasis seperti apa yang bisa mengubah perilaku siswa?”

Setelah beberapa hari adaptasi dengan lingkungan sekolah ini dan banyak sekolah yang saya kenali sebelumnya, sekolah terbaik sekali pun diisi oleh siswa dan pendidik yang tidak sesuai dengan prinsip pendidikan. Dalam pendidikan seorang individu merupakan bagian dari lingkungan sosial yang berpengaruh dalam pembentukan perilakunya, Purwanto, 2009:15-16

Hari-hari berlalu di bawah atmosfer langit yang sama. Perasaan semakin tak menentu melihat anak-anak yang diabaikan oleh guru-gurunya, guru yang menunda-nunda waktu untuk masuk kelas, guru yang mencuri waktu agar pulang lebih awal, dan guru yang masuk kelas saat guru lain sedang melakukan aktivitas pembelajaran.

Hari ini tidak seperti biasanya sekolah begitu riuh dan tidak efektif melakukan pembelajaran. Hanya anak-anak kelas 3 SMA dan MTS yang sibuk dengan kegiatan pembelajaran karena sebentar lagi menghadapi Ujian Nasional. Sisanya bolos dan pulang lebih pagi kemudian nongkrong di warung kopi.

“Bu, si fulan lagi sakit. Tau enggak? Dia ngelem”

Seloroh anak laki-laki yang berlarian di depan kantor.

“Ngelem naon?”

Tanya Bu Ai atau perempuan muda yang saya panggil teteh. Dalam hati saya bertanya-tanya dengan kebiasaan yang sering dilakukan beberapa anak di sini. Selain mencampur obat-obatan dari warung juga membuat lem menjadi pelepas depresi atau mencari kesenangan dengan fantasi.

Ngelem adalah aktivitas menghirup aroma lem untuk mendapatkan sensasi memabukkan. Aktivitas seperti ini sering saya temukan di pinggir jalan kota seperti kota-kota besar yang dipenuhi anak jalanan dan pengamen. Dengan menghirup aroma lem mereka lebih percaya diri saat bertemu dengan orang-orang di angkutan umum, bis, atau taman.

Di desa dan pelosok-pelosok kota juga tak luput dari tafsiran moral yang perlu penanggulangan. Bagaimana jika aktivitas itu dilakukan oleh anak-anak sekolah? apakah guru yang sepenuhnya tanggung jawab memperbaiki sikap siswa? ke mana orang tua mereka saat obat-obatan telah merusak mental dan semangatnya?

Kesenjangan moral akan selalu ada di mana-mana dan berlaku pada siapa saja. Pada siswa dan guru di sekolah, pada tokoh masyarakat, pada orang tua dan pada diri sendiri. Kesenjangan moral tidak akan terjadi jika bangsa kita sudah bisa mendidik dirinya sendiri. Guru yang disiplin dan memiliki kesadaran awareness dengan melakukan edukasi tanpa menggurui,  orang tua yang tidak embel-embel menyekolahkan anak supaya mendapat nilai bagus kemudian masuk Universitas favorit, mendapat pekerjaan impian lalu mendapat gaji yang besar. Orang-orang dewasa mungkin tidak akan peduli dengan nasihat untuk memperbaiki dirinya selain keluar dari kesalahan-kesalahannya sendiri. Tapi bagaimana jika kesenjangan moral itu terjadi pada anak-anak sejak dini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑