Catatan 80 Hari- Dari Anak-Anak Di Penjara Suci

 

Awan di langit berarakan menaungi hari yang cerah menelisik daun-daun  seperti memahami bahasa manusia.  Apa yang didamba sejak lama kini menjadi nyata dan tibalah saya di penjara suci yang direkomendasikan Ani. Tak pernah terbayang sebelumnya bagaimana menjadi seorang anak pesantren meski dengan status berbeda, yaitu sebagai pendidik dan penimba ilmu. Namun perbedaan itu adalah kekeliruan jika guru dan pelajar dikatakan memiliki entitas yang berbeda, bukankah seorang guru adalah pelajar sesungguhnya?

Dulu, ibu minta saya agar mengeyam dua pendidikan yang berbeda, yaitu sebagai santri dan siswa SMP Negeri. Ibu bilang, dengan mesantren seseorang akan menjadi shaleh atau shalehah termasuk anaknya sendiri. Sementara ibu lupa kalau keshalehan seseorang tidak ditentukan dari mesantren atau tidak nya mereka. Pribadi yang shaleh atau shalehah adalah hasil dari intervensi orangtua terhadap proses tumbuh kembang dan potensi anak-anaknya. Orang tua yang paham self-cognitive seperti sentuhan nurani, seni komunikasi, dan empati akan mudah membentuk anaknya menjadi pribadi yang berkarakter. Tak peduli menjadi apa pun dan seperti apa pun anaknya, yang paling penting adalah pola pikir mereka sudah menentukan siapa dirinya. Barangkali jika mesantren sebagai tempat menambah ilmu agama, hal itu cukup masuk akal dan mudah diterima. Tapi tidak dengan alasan agar anaknya menjadi shaleh atau shalehah karena sejauh ini sikap saya tidak melenceng dari kaidah-kaidah agama. Heheh

Bangunan tua itu terlihat dari kejauhan namun tak seperti yang sebelumnya dibayangkan. Suasananya hening. Mungkin karena pesantren identik dengan sebutan penjara suci atau rimbunnya pohon di desa ini memfiltrasi keriuhan dari kota.

Beberapa lelaki paruh baya menjamu dan minta saya segera melepas tas ke kamar. Satu dari mereka menjelaskan bangunan ini sudah lama dibiarkan selain menjadi penjara suci keramat tak terawat. Suara gedukan di sebelah ruangan mencuri perhatian, rupanya seorang bapak tua membetulkan dinding-dinding terbuka. Tugas mereka berbeda-beda, ada yang memasang listrik, melebur tembok dengan warna baru lalu melengkapi ruangan dengan lap dan sapu.

Hari pertama membuat otak semakin berpikir bagaimana menciptakan celah untuk lari dari kenyatan ini. Sementara kondisi ruangan tak begitu menjadi masalah selain kebersihan kamar mandi dengan jarak yang cukup jauh dari ruangan. Hal-hal yang sebelumnya tak saya alami kini menjadi tantangan yang harus di hadapi, bagaimana mengendalikan diri ketika sumber air surut tidak sampai mengisi bak mandi atau tempat wudhu yang ada di pelataran masjid.Walaupun begitu banyak antusias penduduk sekitar yang minta saya  bertamu tanpa ragu-ragu, memanfaatkan rumahnya seperti milik sendiri, bahkan mereka bilang boleh numpang mandi atau makan nasi. Ahh betapa memalukan jika setiap hari harus menggantungkan hidup pada mereka, bukankah menjadi bagian dari alur hidup seseorang tidak harus selalu memanfaatkan kebaikan? Suatu peristiwa harusnya hanya mengantar diri kita sesaat saja.

Setelah kurang lebih satu jam kami bicara lalu memperkenalkan diri satu sama lain. Dan mereka meninggalkan kami berdua di ruangan yang cukup besar dengan 2 kamar. Pikiran mulai menjamah segala hal di luar nalar termasuk beberapa kisah yang sebelumnya menggetarkan hidup. Bukan maksud saya mengundang mereka dari alam sebelah agar ikut membuka cerita, namun bagaimana tidak mengerikan dengan sebuah bangunan yang terlalu lama ditinggalkan? Meskipun di tempat ini sama sekali tak tercium aroma negatif karena saya pikir para santri dan kiai akan paham memecahkan masalah seperti ini.

Perasaan saya sedikit tenang karena baru kali ini  merasa dekat dengan seorang kiai bahkan bisa mengambil keberkahan Tuhan melaluinya. Tapi bertemu dengan Kiai saja tak selalu menenangkan untuk orang seperti saya di mana Kebebasan menjadi barang berharga yang bertolak belakang dengan agama. Keduanya menjadi kemudi mana yang akan lebih unggul menghilangkan diri.

Hari kedua, perasaan mulai cemas tapi masih bisa dikendalikan dengan ingatan  pada mimpi-mimpi.Segalanya tentang mimpi termasuk memanfaatkan tempat yang kondusif untuk menyelesaikan tulisan. Di tempat dengan jarak 20 langkah dari pondok, surau tanpa dinding tembok dan kaca membawa saya menembus ruang semesta di di antara rumah penduduk dan samping kanan padang terbuka. Setiap pagi hingga sore angin menyisir aktivitas menulis atau mencari sinyal telepon di atas anak tangga dari mulai salat berjamaah dzuhur menjelang isya.

Baru kali ini saya menemukan surau  melebihi ruang terbuka yang dapat dilihat  dari gedung-gedung pencakar langit.Di atas gedung pencakar langit, angin menyeruak hanya sampai pada seseorang yang berdiri di atasnya.Tapi tidak dengan tempat yang saya tempati. Meskipun hanya bangunan di dalam tempat yang  riuh dengan pepohonan, arsitektur masjid ini sangat tepat menyesuaikan dengan suasana lingkungan. Setiap Jamaah atau siapa pun yang hendak singgah selalu saja dibuat betah. Kini, tak ada alasan untuk sesaat tinggal lalu pergi seperti  terjebak di tempat-tempat perantauan  sebelumnya.

Wajah Ani tak menegangkan ketika penduduk sekitar ikut menjamu. Mungkin saja sudah ada lelaki yang ia temukan di sini dan ia seperti bagian penduduk Cikasungka sesungguhnya. Dari perjalanan hidup Ani, saya bisa menyimpulkan kalau waktu bisa lebih bijaksana dari pada itu, waktu yang cukup lama mendiamkan kita pada suatu tempat tidak akan menutup massanya agar meleburkan kita menjadi bagian dari penduduk tempat itu sendiri.

Kami bicara dengan perempuan muda dan ia sangat terbuka, namanya Ai Nurlatifah. Saya lebih nyaman memanggil ia dengan sebutan teteh dari pada Ibu. Usia teh Ai kurang lebih 29 tahun, perawakannya kecil dengan perangai yang keibuan dan ia memiliki dua orang anak dengan jenis kelamin yang berbeda.Seorang anak perempuan pertama yang lahir dari rahimnya bernama Khanza, ia sekarang duduk di bangku sekolah dasar kelas 2. Rambut ikalnya panjang sebahu menjadi bingkai senyum manis saat di tanya ia tersipu malu. Menatap dia, jelas jauh berbeda dengan karakter saya sebagai anak pertama di usia yang sama dengannya. Ia juga sangat jauh berbeda dengan sikap Azka adik lelakinya. Walaupun adik kakak dengan jarak usia 5 tahun, Azka sangat hiperaktif dari anak-anak seusianya.

Teh Ai dan kedua anaknya selalu mengajak saya menghabiskan waktu di Pasir Bukit setiap sore. Pasir Bukit adalah nama desa yang bersebelahan dengan desa Cikebi. Di Pasir Bukit memang ada bukit yang cukup luas tempat dilepasnya kerbau dan sapi agar makan rumput dengan bebas.Para pengembala tak terlalu dipusingkan dengan sisa makanan ternak di kandangnya selain memanfaatkan lahan yang rimbun dengan rerumputan.Di sela-sela tawa kedua anak itu, matahari muncul dari arah barat menyusup pada helaian daun kelapa di kejauhan.Ranting-ranting patah berjatuhan karena di desa ini jarang turun hujan. Saya paling senang mengabadikan tawa ketika mereka menunjukan gigi runcingnya. Teduh matanya membuang sore dari suasana yang keruh saat mereka tak bisa diam dan kerjar-kejaran, sesekali minta digendong ibunya lalu ikut berlarian.Mengabadikan mereka dengan kamera seperti ini tak pernah menjauhkan saya untuk melebur ke dalam diri mereka.Melebur pada tawa dan kegiatan mereka adalah seperti melintasi suatu masa yang membawa saya  pulang pada diri yang sesungguhnya.

Anak-anak adalah rumah. Saat mereka tumbuh dewasa, mereka bisa melihat siapa diri mereka yang sesungguhnya.Namun tak semua anak yang tumbuh dewasa lantas mampu melihat dirinya dengan melintasi suatu masa.Banyak anak-anak yang kini telah terpengaruh oleh media seiring perubahan Zaman dan masa.Anak-anak yang dulu amat sederhana, boleh jadi ketika tumbuh dewasa mereka pandai menipu dirinya.Itu pun tergantung peran orangtua yang mengarahkan mereka dengan perspektif bagaimana untuk menjadikan anaknya seperti apa. Melihat Khanza dan Azka, saya tak mau gagal mendidik diri sendiri sendiri sebelum akhirnya mendidik anak-anak jika Tuhan mengamanahi saya sebagai ibu suatu saat nanti.

Untuk Khanza dan Azka jika suatu hari membaca tulisan ini, terima kasih sudah menjadi teman dari bagian kesulitan yang sedang dihadapi. Berkenalan dengan teman-teman kalian, mencari sinyal telepon di tangga masjid dan main di Pasar Bukit sudah mengurangi kerinduanku pada rumah dan seisinya.

Tulisan ini dibuat sejak dua tahun yang lalu di mana ada yang lebih utama dari pada belajar menikam kerinduan yaitu menemukan. Apa yang selama ini sedang saya cari dan apa yang sedang saya usahakan untuk membebaskan diri dari liarnya pikiran-pikiran yang belum tertata rapi.

Mondok di penjara suci tak selalu berkaitan dengan mengaji. Itu memang selalu dijalani, tapi ada satu hal yang mungkin akan membuat seseorang merasa bertahan dengan pilihan untuk menjadi santri. Seperti hari-hari saya di penjara suci selain mengaji yaitu melebur pada kehidupan penduduk setempat. Ada yang lebih nggak penting tapi sangat saya sukai seperti mengamati anak-anak dan duduk di atas tangga mengabari satu persatu orang-orang terdekat.

Tabik, Cikasungka 03 November 2019

Much Love, Lusiana

 

 

 

 

One thought on “Catatan 80 Hari- Dari Anak-Anak Di Penjara Suci

Add yours

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑