Cantiknya Savana dan Bukit Teletubbies di Bromo Tengger Semeru

Bromo membuat saya lupa untuk pulang dan masih ingin petualang. Keindahan ini membuat saya berjanji pada diri untuk terus berjalan menjelajahi Indonesia karena mencintainya, walaupun dengan langkah yang lambat tapi tidak akan berhenti sampai di sini. Melanjutkan perjalanan dari puncak gunung Bromo, saya dan teman-teman meneruskan penjelajahan ke kawasan Tengger Semeru lainnya di mana savana terbentang luas dengan hujaunya bukit Telletubies dan Pasir Berbisik.Kami menaiki jip yang sama dengan warna dan plat nomornya. Mobil jip ini juga yang akan mengantar kami sampai ke pintu awal keberangkatan.

Untuk tiba di Savana ternyata tidak mudah. Mobil jip yang kami tumpangi harus menaklukan jalan curam dan terjal. Setiap tikungan membawa kami pada kemiringan tak terduga juga kecuramannya, sementara di satu sisi dihadapkan pada jurang yang tinggi. Sungguh, betapa ini perjalanan yang menyemayamkan kami dalam doa, juga membuang rasa takut karena tidak sedikit mobil jip berurutan di depan dan belakang. Bagaimana kalau salah satu mobil jip itu ada kendala? Apakah akan mempengaruhi kendala pada mobil-mobil yang lainnya? Selintas pikiran negatif  menyatu dengan tubuh yang kelelahan lalu bertaut pada satu hal yaitu keselamatan. Selamat sampai tujuan.

Dari ketinggian jalan ini saya melihat Savana yang sangat luas diisi barisan mobil jip dan kuda. Ketakutan pun hilang memandang betapa besarnya kekuasan Dia pada surga di tanah Jawa. Air mata jatuh tak tertahan melihat kecilnya saya di dunia ini, tidak ada apa-apanya. Dan, kalau saya boleh memilih saya ingin memilih “syukur”  sebagai mantra di saat hidup mulai membawa umat manusia pada kepunahan ekologi.

Setelah kurang lebih 30 menit melewati jalan yang terjal, akhirnya kami bisa menikmati  perjalanan yang menyenangkan. Mobil terus melaju melintasi Savana yang melintang sejauh mata memandang. Barisan mobil jip dan kuda-kuda itu kini lebih dekat menambah komposisi keindahan perjalanan ini. Teman-teman memilih tidur di dalam mobil selama di perjalanan sedangkan saya tetap terjaga karena menikmati indahnya momen yang tidak ingin terlupakan. Yaitu, makna yang tidak bisa ditemukan dari sebuah tujuan selain menikmati perjalanan itu sendiri. Mereka yang mencari makna, “menikmati” adalah cara untuk mencapai nirwana sebuah pencarian. Meski hanya sebatas tanya tapi kita tidak akan pernah mendapat jawaban yang sia-sia. Kita yang percaya keabadian, tak ingin menjalani hidup ini dengan kesia-siaan. Bukankah hidup yang tak bermakna adalah hidup yang tidak layak di jalani?

Apa kau menyadari mengapa orang-orang pergi? Di saat hidup menyambut kita dengan kedatangan yang baru, justru kehidupan sedang menyeleksi siapa saja yang layak bertahan dengan kita. Kita berada di ruang yang sama seperti mobil-mobil jip itu, hanya dikendalikan oleh pengemudi yang berbeda. Tapi sejatinya dalam hidup ini pengemudi diri kita adalah diri kita sendiri.

Mobil semakin menjauh membelah Savana dan saya tidak banyak tanya di tempat bagian mana kami akan berhenti. Ahh lagi-lagi air mata jatuh tak tertahan banyak haru yang sulit di jelaskan.

Terlalu luas untuk menjelajahi Savana ini dengan jalan kaki padahal saya ingin sekali menghabiskan waktu lebih lama dengan memperlambat durasi sampai di bukit Teletubbies. Tidak ada apa-apa di sini, tidak seperti ketika kau memburu air terjun lalu bisa berenang, tidak seperti mengenal relief peninggalan Hindu-Budha di candi-candi tanah Jawa, atau pantai di mana tempat kau bisa berselancar. Kau hanya akan dibuat kagum dengan Savana yang melingkar seolah menjadi Nirwana di dunia. Terlepas dari itu bagimu yang senang kontemplasi mungkin tempat ini sangat mendukung pada keheningan batin dan menjawab segala tanya yang kau ciptakan sendiri. Atau, kamu juga bisa berhenti sewaktu-waktu menemukan spot terbaik jika membawa kendaraan sendiri karena kalau ikut rombongan travel malah akan merepotkan. Hehe

Akhirnya kami tiba di tempat tujuan yaitu bukit Teletubbies. Nama bukit yang tidak asing lagi dalam telinga anak-anak 90-an di mana mereka yang bernama Tinkywingky, Dipsy, Lala dan Po selalu jadi rebutan anak-anak pada masanya.

Untuk kamu yang tahu film kartun itu selamat ya! Masa kecilmu bahagia 😀

Hari semakin siang dan perut mulai keroncongan. Kami tidak menemukan warung-warung makanan selain miniatur semesta yang melintang.

“bawa makanan gak?” tanya Damayanti. Saya sumringah membawa sepotong roti.

“No at all, tapi masa iya sih tempat wisata seramai ini gak ada warung makan?” jawab saya sambil melihat sekeliling mencari warung.

 

“Kak, mau kue bakpau gak?” seloroh Hirani menawarkan kue bakpau pada kami.Damayanti terlihat antusias untuk membelinya sementara saya tidak. Ya, beginilah perut orang Indonesia. Belum makan kalau belum masuk nasi ke dalam perut.

Membuntuti Damayanti membeli kue bakpau, tanpa sengaja saya pun menemukan warung-warung yang berjajar rapi dekat rentetan mobil jip. Tapi sayangnya mereka tidak menjual nasi dan lauk pauk selain bakso dan cemilan-cemilan ringan di tambah kopi. Para penjaga warung begitu menunjukan eksistensinya mengajak pengunjung untuk melipir ke warung mereka lalu mencoba bakso malang mana yang memiliki cita rasa terbaik di sana. Okelah, meskipun udah siang, tapi tetap saja perut saya membutuhkan nasi.

.

Hijaunya Bukit Teletubbies ternyata menjadi sasaran selfie para wisatawan termasuk saya. Mereka datang dari jauh demi mengambil latar belakang foto yang memiliki nilai estetika dan tidak keberatan berjalan sejauh perbukitan. Tidak sedikit juga dari mereka memilih duduk menikmati Bukit yang terpampang nyata.

Sementara, saya memilih berjalan dan mengabadikan mereka karena keindahan tidak selalu tentang hamparan rumput atau tumbuhan yang subur membentuk pegunungan dan perbukitan. Keindahan selalu ada pada panorama yang ada di depan mata apa pun itu tergantung kita memaknainya. Seperti lelaki paruh baya yang sedang duduk itu. Di samping beliau menjual Edelweis kering, saya yakin dia juga mengamati keindahan Bukit dan riuhnya orang berlalu lalang.

Atau mereka yang sedang berdiri di samping kuda alih-alih menawarkan jasa menunggangi kudanya, mereka tidak sadar ada orang yang sedang memperhatikannya. Apakah orang lain juga melakukan hal serupa seperti perhatian saya pada mereka? Mungkin hanya ada beberapa traveler di dunia ini yang tidak terlalu berambisi untuk mencapai tujuan tapi sekedar memaknai perjalanan. Bagi mereka yang selalu dibuat cemas atas kejadian atau memastikan sebuah harapan, menemukan makna dalam perjalanan adalah obat menyembuhkan perasaan-perasaan seperti itu.

Kata apa pun kamu menyebut dirimu sebagai seorang pejalan baik traveller, tourist, bagpacker, adventurer, wanderer, kita harus tetap jaga bumi ini dengan baik ya. Agar semesta lestari dengan keindahan paripurnanya.

Berjalan, Menelisik Pasir Berbisik

Hari semakin siang. Terik matahari bermukim di kulit yang perlahan menghitam. Hembusan angin menyibak awan nampak cerah tidak seperti biasanya ketika biru langit tumpah pada wajah-wajah haru di Brono Tengger Semeru.  Saya mengajak teman-teman segera pindah ke lokasi berikutnya di mana Bromo Tengger Semeru juga membaluti hamparan pasir yang luas. Mereka bilang pasirnya berbisik, apakah pasir itu bisa bicara? Apakah bisikan mereka terdengar oleh manusia? Lalu apa yang membuat mereka yakin mengatakan pasir itu berbisik? Mungkin orang-orang yang sudah berkunjung kesana mendengar bisikan pasir-pasir tersebut. Lagi-lagi saya harus berjalan menuntaskan rasa penasaran meskipun saya tidak percaya benda selain manusia dapat bicara.

source: Detik travel Shinta Anggriyana

Di balik puncak gunung itu ada kawah yang sayang jika dilewatkan tapi saya belum tertarik karena harus mendaki tangga yang cukup lumayan. Sedangkan untuk tiba di pelataran puncak, kita juga diharuskan menunggangi kuda karena tidak mungkin mengarungi Savana dengan berjalan. Barangkali perjalanan kali ini akan menjadi revisi di mana suatu saat nanti bisa kembali lagi.

Hehe rasanya hari ini cuma ingin pulang ke penginapan lalu rebahan.

Setiap pijakan kaki membuat langkah terasa bergoyang karena pasir yang bergelombang. Pasir-pasir bergesekan dihembuskan angin hingga permukaan. Gesekan itulah yang menciptakan suara unik mirip dengan bisikan seseorang. Angin bahkan meniup permukaan pasir seperti itu dan membuatnya terlihat seperti ombak laut. Itu alasan tempat ini disebut pasir berbisik dan apa yang dilakukan berikutnya? Kita hanya duduk lalu sesekali mengabadikan diri atau membuat vlog mengisi story instagram. Di sini, siapa pun bisa berbaring merasakan angin tanpa takut pasir mengganggu karena kelembutannya. Ia bahkan akan terlihat seperti ombak saat angin sedang kencang dan momen seperti itu yang sangat di rekomendasikan untuk siapapun datang ke sini apalagi jika sore hari.

Tepat pukul 10:00 kami mengakhiri aktifitas di savana ini.  Kami harus segera pulang dan menyiapkan keberangkata ke Yogyakarta malam ini. Walaupun melelahkan, tapi ini cara saya merayakan akhir tahun sekaligus bulan kelahiran 😀

So, no matter how much money I spent for travel, it’s always be a moment.

Sampai jumpa kawan-kawan baru dan Bromo Tengger Semeru.

2 thoughts on “Cantiknya Savana dan Bukit Teletubbies di Bromo Tengger Semeru

Add yours

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑