Berteman Baik Dengan Izrail

Akhir-akhir ini banyak sekali orang yang meninggal dunia. Satu hari di satu desa  bisa mencapai 3 orang atau lebih yang diikuti oleh hari-berikutnya dengan jumlah tak terduga. Pandemi Covid-19 selalu menjadi alasan malaikat Izrail ditugaskan oleh Tuhan. Padahal saya selalu percaya bahwa kadang penyakit atau pandemi bukan alasan menafsirkan kematian. Kematian kini terasa begitu dekat seperti urat nadi yang kapan saja bisa terputus dari sirkulasi tubuh manusia. Kematian begitu dekat seperti bayang-bayang yang menemani kita sepanjang hari dan mengikuti kemanapun kita pergi.

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati dan hanya kepada Allahlah kita semua akan kembali. QS. Al-Ankabut 57.

Dulu angan-angan saya sangat jauh mengingat  kematian. Kematian hanya datang pada orang-orang paruh baya atau siapa saja yang hidupnya didera penyakit. Mereka pulang pergi ke rumah sakit untuk mengobati apa yang membuat mereka tak nyaman dalam tubuhnya, dan obat-obatan menjadi alternatif menghindari kematian dini demi keabadian senyawa biokimia dalam tubuh manusia. Kematian menjadi sugesti menakutkan yang ditanam dalam otak manusia sejak kecil. Ia yang telah mati tak ada bayang-bayangnya di dunia ini lagi, ia terlupakan begitu kematian memutus segala hubungan. Kematian membuat saya tak sadar telah menakutinya perlahan bahkan saya pikir kematian itu sangat jauh dan tak akan datang sama sekali.  Ada banyak teori yang mengkaji tentang kematian, baik  dari perpektif psikologi maupun perspektif remaja. Boharudin, seorang konselor dari Pekanbaru ia tidak memandang kehidupan manusia setelah mati melainkan mempelajari bagaimana sikap dan pandangan manusia terhadap masalah kematian dan apa makna kematian bagi manusia itu sendiri.

Kematian akan menjadi perkara yang selalu dirindukan saat manusia menempatkan Tuhan dalam hatinya. Siapa pun yang senantiasa merindukan Tuhan percaya bahwa kematian hanyalah jalan menuju eksistensi-Nya. Kematian bukanlah akhir kehidupan yang sedang kita jalani saat ini, bahkan mereka yang menganut agama Hindu dan Budha pun percaya bahwa kematian hanyalah perpindahan. Mati berarti manusia pindah ke alam sebelah untuk menjalani kehidupan-kehidupan berikutnya.

Ibu saya selalu bilang bahwa gambaran kematian dan hidup setelah kematian adalah seperti apa yang kita jalani saat hidup di dunia.  Ibu selalu berusaha menjadi pribadi yang bahagia dan taat pada Tuhan agar kematian yang ia hadapi tak semengerikan yang ia bayangkan. Saya dan ibu tahu pedihnya sakaratul maut itu dari cerita-cerita yang disampaikan oleh guru-guru ngaji, dan dari hal itu saya menyadari ada yang terlupakan dari eksistensi kematian yaitu cara malaikat Izrail mencabut nyawa manusia. Kematian seperti apa yang akan malaikat Izrail berikan kepada manusia? Ia tak berupa pada siapa pun yang amalnya biasa-biasa saja. Ia menjadi bersahaja dengan gagahnya menampakan diri pada manusia-manusia yang membawa kebaikan selama hidupnya. Ia pun menjadi paling mengerikan jika yang kita bawa lebih banyak keburukan dari pada kebaikan-kebaikan.

Mengenal Izrail dan mengingat kematian kadang seperti fantasi yang akan membawa manusia ke negeri dongeng. Penampakan Izrail dan kematian bisa dihendaki sesuai keyakianan akan seperti apa ia berlaku adil kepada manusia. Sebagai pendosa, saya selalu berusaha agar kematian saya penuh suka cita dan nyawa saya dicabut dengan lembut penuh sahaja atas perintah-Nya. Meskipun saya tak bisa menyamakan posisi sebagai Nabi Idris As yang berteman baik dengan Izrail. Di satu waktu saat nabi Idris sedang duduk dengan tenang dan mengingat Allah, malaikat izrail menghampirinya hanya untuk berziarah bersama. Nabi Idris bisa dengan mudah minta Izrail agar mengcabut nyawanya namun permintaan itu ditolak tanpa ada perintah dari Allah. Setelah Allah mengizinkan, izrail memenuhi permintaan Nabi Idris untuk mengcabut nyawanya dengan cara yang baik dan lembut.

سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا

Saya mendengar kemudian saya menaatinya QS. An-Nur :51

Satu-satunya cara agar saya tetap berteman baik dengan Izrail adalah dengan menjadi manusia yang taat. Terlalu banyak dosa yang bisa saya prediksi seperti apa Izrail mencabut nyawa saya nanti. Maka dari itu, saya ingin mendengar apa yang telah Tuhan sampaikan dalam Al-Quran. Saya ingin menganggap kematian itu adalah hal yang tak penting melainkan apa yang telah saya siapkan ketika menjumpainya.Dan saya ingin percaya bahwa keyakinan yang dibarengi dengan adab akan menyelamatkan manusia dari getirnya kehidupan setelah kematian. Apa yang kita yakini, apa yang kita jalani, itu yang akan membuat kita selamat dari segala ketakutan-ketakutan yang belum terjadi.

Kata taat merupakan serapan dari bahasa Arab yang berarti ‘menemani’ atau ‘mengikuti.’ Dalam perspektif keagamaan, hakikat taat ialah sikap dan tindakan yang tulus untuk mematuhi perintah Allah SWT dan Rasul-Nya. Saat kamu memilih tidak menjalin hubungan dengan lelaki yang bukan mahram, pilihanmu sudah menafsirkan bahwa ketaatan bagimu adalah tidak mengkhianati Tuhan dengan cinta yang semu. Atau beberapa perempuan akan meyakini bahwa hijab  adalah cara mereka melindungi dirinya dari pandangan telanjang lelaki.

Setiap orang bisa mendefinisikan taat sesuai keyakinan terhadap suatu hal sebagaimana saya mendefinisikannya sebagai rujukan pada diri agar lebih terlindungi. Dan tidak semua orang harus tahu apa yang kau taati, karena boleh jadi taat adalah hati yang senyap dengan tidak menunjukan seberapa besar keyakinanmu pada Tuhan. Bukankah ketaatan beriringan dengan kebajikan? dan bukankan apa yang mengiring kita adalah kematian? menjadi taat adalah pilihan di mana manusia berusaha menjalin hubungan yang baik dengan Izrail dan Tuhan. Menjadi taat kadang sangat sulit karena bertentangan dengan banyak pilihan, tapi pada akhirnya ketaatan selalu membuat hati kita menjadi tenang.

2 thoughts on “Berteman Baik Dengan Izrail

Add yours

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑