Belajar Dari Waalrechdatdan, Menjadi Seorang Nomad yang Bahagia Karena Hidup Adalah Ketidakpastian

Sebelum waktu melaju lebih jauh dan ingatan-ingatan tentangnya lumpuh, tulisan ini adalah bagian dari perjalanan bagaimana waktu selalu mengulang temu. Karena bagaimana pun juga pertemuan adalah universum yang akan selalu fana tanpa menjadi kata-kata. Sayang sekali kan? waktu yang mengulang singkat pasti selalu meninggalkan kenangan hebat tak terkecuali dengan seseorang yang berdedikasi terhadap perubahan yaitu Waalrechdatdan. Mungkin kau akan mengira dia seorang bule dari negara tetangga atau benua Eropa. Namanya sangat unik dan sampai saat ini saya juga belum tahu arti di balik nama sosialnya. As a human interest, Waalrechdatdan adalah salah satu orang yang dikagumi bukan hanya karena pola pikir namun juga keuletannya memberdayakan manusia. Bicara tentangnya adalah bicara tentang kreativitas dan kebebasan yang mungkin jadi membawanya pada puncak kehampaan.Sehingga ia begitu jernih memikirkan hakikat kehidupan.

To the unknown time

Siang hari di bawah terik matahari, seseorang sudah menampakkan batang hidungnya dari arah utara lapangan udara. Aroma tubuhnya tercium berpadu dengan riak orang-orang berlalu lalang, ia memakai kaos di padu padan dengan jaket hijau toska dan celana pendek yang tidak lupa dengan aksen topi warna yang sama.

“Hi, how was you day?” sambil menyerahkan tangan bersalaman, tak lupa saya juga menanyakan kabarnya. And he answered it well.

Kami duduk di bawah pohon beringin dekat jalan raya membuang muka dari kerumunan. Sepanjang jalan Cijulang cukup riuh diramaikan anak-anak usia dini yang latihan manasik haji. Setengah hari ini dibuat bising sekali dengan deru kendaraan yang senada dengan suara  pedagang,tawa dan tangis anak-anak.

Waktu semakin tak kami rasa ke mana membawa massa pergi. Setiap topik pembicaraan rupanya perlahan menjauhkan saya dari waktu yang mana harus segera pulang lagi.

“Filsuf siapa yang kamu sukai?”

Seloroh pertanyaan darinya tiba-tiba menggali ingatan pada Socrates, Aristoteles, dan Seneca.

“Sartre”  Beberapa hari sebelumnya ingatan saya masih dihanyutkan oleh Psikologi Imajinasi karya Jean Paul Sartre. Mendadak saat itu juga dengan spontan saya menjawab Sartre padahal belum jauh mengenal karya-karyanya.

“Sartre yang bilang bahwa bagian terburuk dari dibohongi adalah mengetahui bahwa Anda tidak layak untuk mendapatkan kebenaran. I dunno why I’d love that words

Ia menyimak namun juga melontarkan argumen yang di kemas dengan gurauan seakan-akan saya sering menjadi korban para pembual. Pertemuan terkadang menjadi jenaka karena cara penyampaian pesan dari orang yang kita temui, namun siapa lagi yang setuju jika pertemuan juga menjadi sebatas intervensi atas kepentingan pribadi?.

Sebagai individual yang selalu di buat sibuk dengan pekerjaan, saya merasa jauh sekali dengan karakter ia sebagai seorang komunal. Namun satu persatu celah untuk mencuri informasi dari para komunal itu selalu terbuka sampai akhirnya menjadi tameng bagi saya bisa berdiri kuat sampai detik ini.  What is kind of human am I?

“apa yang membuat kamu bahagia menjadi seorang nomad?” salah satu manfaat mengenal dia adalah kebutuhan ilmu dan relasi ketika saya ingin sekali menjadi seorang nomad yang berarti. Sepanjang hidup dihabiskan hanya untuk bepergian namun tetap bisa makan dan membeli kebutuhan, menyenangkan bukan?

Zaman sekarang kehidupan sudah dibuat tabu dengan hal-hal konvensional karena teknologi yang semakin berkembang. Apa pun bisa didapatkan hanya dengan menatap gadget sambil duduk atau rebahan, orang-orang lupa bahwa ada auditorium alam semesta yang meminta manusia untuk berjalan. Bagi beberapa orang mungkin main gadget dan rebahan adalah surga untuk santai-santai namun sebagian lagi menganggap rutinitas itu sebagai racun yang mematikan sel-sel penggerak dalam tubuh. Karena itu saya tak pernah berhenti berpikir untuk menemukan jalan agar kehidupan saya memiliki kemajuan yang tak membosankan. Siapa yang tak ingin menjadi seorang nomad? pikir saya saat itu karena masih muda dan bebas berkehendak (free will).

Nomaden berasal dari kata Nomad/ dalam bahasa Yunani berarti /Nemein/ nomos/ artinya menuju ke padang rumput. Pelaku yang identik untuk sebutan nomaden hanyalah hewan-hewan yang di bawa oleh seorang pengembara untuk mencari padang rumput tanpa tempat tinggal permanen. Sedangkan secara etymology nomaden memiliki pengertian luas bukan sekadar cakupan tempat atau wilayah melainkan pastorialisme. Hanya dengan cara kuno hidup seseorang bertumpu pada pengelolaan binatang-binatang peliharaan. Ketika mereka menggembala domba atau sapi, mereka mengikuti ke mana sapi dan domba itu ditempatkan.

Kehidupan nomaden dibagi menjadi tiga bagian dengan masing-masing perbedaan yaitu pemburu-peramu (hunter-gatheres), pengembala (pastoral nomads), dan pengelana (peripatetic nomads) apa pun ke tiga kelompok yang membedakan stratifikasi nomaden, pada dasarnya seorang nomaden menginginkan kebahagiaan dalam hidupnya. Mereka terkesan tak punya tujuan hanya karena menggantungkan hidupnya menjadi seorang pastorial, namun gaya hidup pastorialisme di era 4.0 telah menjadi gaya hidup kekinian dengan memodifikasi tata cara kuno menjadi lebih modern. Dan bagi saya sendiri menafsirkan seorang nomaden lebih dari pada taksiran etymologi atau menurut istilah saja. Mereka yang senang bepergian dan berpindah-pindah pada dasarnya para pencari yang tidak ingin pulang sebelum menemukan. Same as me if you are a  seeker not receiver 🙂

“denganya saya bisa melepaskan belenggu-belenggu kehidupan” jawab Waalrechdatdan setelah beberapa menit ia terbungkam.

“Mimpi, harapan, cinta, adalah hal yang tak pasti. Dan saya tidak suka ketidakpastian”

”why did you say that?” saya sedikit heran, menerka-nerka betapa mimpi dan harapan tak penting baginya.

“ Yaiyalah teh, karena yang  pasti itu hanya kematian”

Bukankah mimpi adalah perisai dibalik kekuatan seseorang untuk tetap berjalan? Ketika seseorang terluka, patah, mimpi adalah pengecualian yang karenanya seseorang tak peduli seberapa besar penderitaan. Tapi tidak dengannya, ada sudut pandang baru yang saya temukan hari ini perihal mimpi.

“Saya bahagia menjadi seorang nomaden, karena cuma di sana kehidupan saya teh, hanya dengan komunitas saya bisa bertahan dan menjadi berarti selama bepergian”

Seorang nomad modern kini tidak lagi menggantungkan hidupnya pada cara-cara kuno pastorialisme pada pengelolaan peliharaan-peliharaannya. Melainkan menjadi seorang aktivis atau kreator konten sebagai jalan menyambung hidupnya. Teman saya memilih menjadi seorang fotografer dan videografer industri modeling sebagai tumpuan hidupnya selama bepergian, saya masih bertahan menjadi seorang penulis lepas dengan bayaran yang tak kalah menggiurkan ketika seorang teman yang malas minta dibuatkan skripsi. Dan ia terlihat seperti seorang tour guide Batu Karas karena lingkungan pergaulannya hampir sepenuhnya melibatkan orang-orang asing. I also know Jillian Hanson and Stephany , mereka berasal dari Amerika yang pada saat itu mendedikasikan diri untuk mengajar anal-anak sekolah dasar di komunitas yang bernama Baletau.

“menjadi seorang nomaden itu tidak mudah teh, kamu tidak bisa hidup idealis ketika memilih menjadi seorang nomaden. Sekuat apa pun kamu menghindari rantai kehidupan yang membelenggu, di sana ada yang lebih penting ketika menjadi seorang nomaden yaitu makan. Dari mana kamu mendapat penghasilan tetap? kecuali kamu orang kaya dan sudah menyiapkan banyak dana untuk bertahan hidup.”

“Ketika memilih menjadi seorang nomaden, saya hanya ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Di sanalah kebahagiaan meski pun saya juga tetap berpikir realistis.”

Setiap berbicara dengannya seketika pikiran ini dibuat tumpu oleh kata-kata. Banyak diksi asing terlihat betapa sudah jauh ia berkelana dan menghabiskan setengah waktunya untuk membaca. Ketika saya memilih hidup dalam imajinasi dan meramu setiap impian menjadi kata-kata, apa yang ia sampaikan selalu jadi reminder bahwa menjadi realistis itu penting. We need to hard work and earn a lot of money to buy happiness. Tapi kadang ia juga menjebak dan pandai memainkan fakta menjadi fiksi atau sebaliknya.

Sulit sekali meretas isi kepalanya sebagaimana sulit memastikan latar belakang pendidikan yang acap kali ia bilang sampai sekolah tingkat atas. Asumsi itu bukan berarti membuat saya tak percaya bahkan seorang Nyai Ontosoroh ibu dari Annelis Mellema bisa jadi seorang pengusaha rempah di Wonokromo? this what I want to immitate from him, how could he go overseas become a speaker in London South Bank University?  seseorang yang terlihat sangat bebas namun sembunyi di tempat yang terang.

Ada banyak sekali orang-orang yang sudah saya temui dalam hidup dan kau pun pasti merasakan hal yang sama.  Namun saya yakin apa yang membedakan denganmu adalah bagaimana menafsirkan sebuah pertemuan dan perpisahan. Kalau kamu selalu percaya bahwa tak ada seorang pun yang benar-benar pergi dalam hidup ini selain meneruskan kembali risalah baru pada orang-orang yang berbeda, kamu tak akan menghiraukan bagaimana cara kerja alam semesta ini terhadap pertemuan dan perpisahan.

Tidak selalu siapa yang kita temui adalah cerminan diri kita sendiri, akan tetapi siapa yang pernah tinggal dalam hidup kita adalah cerminan diri kita sendiri.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑