Amigdala

Ada yang menunda pernikahan demi menuntaskan perjalanan seorang diri menelusuri pelosok negeri, ada yang berani melepaskan sebab ia tahu cinta sejati akan selalu menemukan jalannya kembali, ada yang segera menggenapkan sebab ia tak mau dilucuti kekasihnya lalu ditinggal pergi. Beberapa orang bekerja sebagai kaki tangan atau bos untuk dirinya sendiri sebelum menjadi “orang” dalam definisi orang-orang. “Naif sekali,” katamu. “Kau hanya menyesatkan diri di alam pikiranmu sendiri” Begitulah hidup, ia memang tak sebaik alam. Alam mengajarkanmu untuk menerima dan menghargai, sedangkan hidup memberimu pilihan untuk menerima tanpa menghargai. Atau keduanya, kau bisa milih semuanya. Awal dan akhir, kita hanya perlu berterima kasih pada segala pemberi kehidupan. Tapi jangan terlalu mencintai “kehidupan” bisa jadi ia musuh paling keji dengan menyeleksi orang-orang agar mati. Boleh jadi setelah ini adalah kau atau aku kita tak pernah tahu. Tapi menghadapi kematian harus percaya diri, karenanya telah memberimu ruang bahwa pertemuan dan perpisahan hanyalah bagian kecil dari sebuah permulaan yang tak mengekalkan.

2 thoughts on “Amigdala

Add yours

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑