Senja di Tebing Breksi

Tebing Breksi menjadi titik temu perpisahan antara tahun 2019 dan perjalanan-perjalanan berikutnya yang akan saya akhiri sementara. Ialah perjalanan yang dinanti para perempuan ketika mereka ingin melabuhkan hatinya pada satu pilihan. 😀 Semoga menjadi doa yang baik dikabulkan oleh yang maha baik.

Seandainya saya seorang lelaki, langkah ini sudah semakin jauh mengukur kilometer jarak  rumah ke pelosok-pelosok Indonesia. Lelaki seperti elang yang bebas menukik tajam kemana pun ia mau. Ia memiliki langkah yang panjang bahkan tak perlu khawatir lupa jalan pulang. Tapi perempuan memiliki batasan. Ke mana pun mereka pergi, jejaknya tak pernah absen dari kekhawatiran orang tua. Mereka takut anak perempuannya lupa diri ketika berkelana, karena perempuan memiliki hati yang sensitif saat menafsirkan segala hal termasuk kontemplasi begitu saya  melihat tebing ini.

Tatapanmu akan dibuat kagum pada euforia keindahan yang tidak mudah didapatkan. Kau hanya perlu menjamahnya dengan sedikit berjalan lalu dengan mengenal ukiran-ukiran di batu kapur itu menyadari tidak semua keindahan  ada pada gelombang pasang atau gunung-gunung yang menjulang.

Dulu, Tebing Breksi adalah pertambangan yang dibuat pemerintah setempat sebagai lahan usaha dan sumber pendapatan. Awal mula terbentuknya Tebing Breksi sekitar tahun 80-an di mana warga sekitar Yogyakarta mendapat penghasilan dari pertambangan ini. Pekerjaan itulah satu-satunya jalan memenuhi kebutuhan ekonomi mereka.

Tidak ada yang tahu jika di kemudian hari Tebing Breksi menjadi tempat wisata dengan daya tarik arsitektur semesta. Padu padan batu kapur hitam putih dan ukiran ular naga menjadi ciri khas tempat yang memiliki unsur edukasi dan budaya ini.

Waktu berjalan  cepat dan tidak ada yang berubah dari tahun 80-an. Tak ada peninggalan yang lebih berarti dari para peneliti tentang Tebing Breksi selain batu kapur yang merupakan abu vulkanik dari Gunung Nglaggeran, Gunung Kidul. Aktivitas penelitian itu menyebabkan pertambangan berhenti dengan alasan Tebing Breksi sudah termasuk ke dalam kawasan cagar budaya. Setelah aktivitas tambang diberhentikan total, Tebing Breksi dibiarkan lama dan tidak diurus masyarakat seperti biasanya.

Masyarakat mulai antusias dan merapikan bekas pertambangan hingga menarik perhatian orang-orang. Mereka menata beberapa anak tangga yang membawa pengunjung tiba di bagian atas Tebing Breksi untuk swafoto atau duduk melihat senja.

Mungkin kau bertanya apa makna dibalik nama Tebing Breksi atau kenapa harus Breksi sebagai nama Tebing ini?. Nama Tebing Breksi merupakan ide kreatif dari masyarakat setempat yang diambil dari jejak guratan bekas proses penggalian dan pengambilan material bangunan saat itu. Beberapa warga menyebut Tebing ini hampir mirip dengan Tebing Breksi yang ada di Bali. Namanya pun sama yaitu Breksi. Jadi jika kamu belum pernah ke Bali bisa mampir saja ke Tebing Breksi yang ada di Yogyakarta ya!

A beauty is not always emmited from blooming flowers, blue skies or wide oceans. It can also be due of historical sculpture in the form of the stone.

Kapan tempat wisata akan senyap dari padatnya manusia? Ribuan pengunjung menghabiskan sisa akhir tahun di Yogyakarta dan salah satunya memilih Tebing Breksi sebagai tempat berlibur mereka. Hampir tidak ada ruang bagi saya dan Damayanti untuk untuk mengabadikan diri tanpa gangguan pengunjung. Berdiri di belakang ukiran ular naga itu akan lebih artistik ketika tidak ada orang lain yang terbidik oleh kamera.

Di bagian pinggir dekat tangga menuju puncak Tebing Breksi, ukiran pahatan naga dengan mulut menyeringai menjadi salah satu karakteristik Tebing Breksi. Di balik pembuatan pahatannya menyimpan filosofi yang harus saya ketahui, bukankah di balik setiap pandangan kita selalu menyimpan banyak tanda untuk ditafsirkan?

Masyarakat Jawa mengakui bahwa naga diartikan sebagai sang penjaga.Dari ornamen hias maupun bentuk dan posisi naga pada pahatan tersebut, dapat ditemukan hubungan masyarakat Yogyakarta dengan Tuhannya berupa kesuburan dalam pertanian, keselamatan, dan keberkahan dalam hidup.  Secara simbolis juga Tebing Breksi berada di bawah kawasan Candi Ijo yang Letaknya pun disesuaikan dengan posisi Candi Ijo menghadap ke arah timur.

Lalu apa yang membuat masyarakat tertarik memahat wayang di beberapa dinding Tebing Breksi? Tebing ini seperti magnet yang ingin saya kenal lebih jauh mengenai sejarah dan filosofi-filosofi ukirannya. Ada dua wayang di depan saya yang satu sudah tak asing lagi yaitu Arjuna. Tak heran jika Arjuna selalu dijadikan simbol di mana pun termasuk pada logo komersial seperti brand property, restoran, dan travel. Karakter Arjuna dikenal karena ketampanan dan kesaktiannya dalam pewayangan. Karakternya yang lemah lembut dan merakyat membuat Arjuna di dambakan oleh para wanita.

Have you ever thought that not only human need to sleep? Animal needs to sleep, a plant even lay themselves know unknowingly. A sun goes down with a signal needs to rest? I am questioning everything includes why we sleep?.

Walaupun, bukan hanya pahatan Arjuna yang mencuri perhatian saya di Tebing Breksi.  ada yang diam-diam menelisik tajam para pengunjung yang berusaha mendekatinya, yaitu dua burung hantu jenis Bubo Sumatra sudah mencuri perhatian saya walaupun ada enam ekor burung hantu yang berada di sekitar tangga Tebing Breksi. Masing-masing berjumlah dua ekor di antaranya Buby Fish, Oriental Obay, dan Bubo Sumatra.

Yang membedakan burung hantu jenis Bubo Sumatra dan lainnya yaitu ukuran. Burung hantu Bubo Sumatra memiliki kesan garang dan berwibawa. Kakinya dipenuhi bulu-bulu halus berwarna putih dan cakar yang tajam. Biasanya burung hantu Bubo Sumatra lebih mahal dari jenis burung hantu yang lain karena ada karakter yang lebih menonjol yaitu juntai yang lebih panjang.

Rupanya Tebing Breksi tak hanya menawan di siang hari. Senja menyapih lelah saya seharian berkelana di Yogyakarta. Senja di Tebing Breksi tak kalah memukau dengan senja-senja yang saya temukan di kota Blitar, Kediri, dan Malang. Apa yang membuat senja itu berbeda? Hanya sudut-sudut saja bukan? Setiap kota memiliki senja dengan masing-masing keindahannya.

Senja tak pernah ada habisnya dibicarakan. Oleh para pendaki atau pegiat literasi, senja selalu menjadi tameng perasaan setiap pengagumnya. Kau juga barangkali demikian, kita sama-sama pernah menjadi autis mendefinisikan senja. Senja di ibu kota di mana matahari menyusup melalui lorong-lorong gedung tinggi atau di Yogyakarta salah satunya saya habiskan setengah hari di Tebing Breksi.

“ Rin, sepertinya kamu memang belum ingin pulang, kita tidak bisa bertemu” ada haru yang tak bisa dijelaskan lagi dengan kata tentang perjalanan bersama yang sudah jadi rencana.

“Maaf, mungkin nanti. Saya tidak tahu kapan kita akan melakukan perjalanan bersama” dengan berat hati saya menegaskannya.

“ Yaudah, berarti kita tak jadi ke pantai” tegas dia. Saya pun berusaha mengikhlaskan apa yang seharusnya tak mungkin terjadi saat itu juga.

Bagian perjalanan kali ini cukup kontradiksi antara kenyataan dan idealisme. Mimpi-mimpi tumbuh seperti pohon dengan daun rindang yang di langitkan sebelum berkelana ke bagian timur Pulau Jawa. Patah hati di definisikan sebagai makna suatu perjalanan untuk tumbuh, bukan sekadar mengunjungi tempat-tempat yang ramai dikunjungi atau menjadi andalan wisata daerah itu.

Katanya, doa-doa yang di langitkan dalam perjalanan akan mudah dikabulkan karena seseorang sedang menjadi terasing di bumi ini. Oleh karena itu  senja di Tebing Breksi membuatnya tak ingin pulang. Ya, saya masih belum ingin pulang.

 

 

 

 

Leave a Comment