Arunika di Gunung Bromo

Apa yang kau cari pada keindahan gunung Bromo?

Apakah hidup hanya berhenti di satu persinggahan? Atau terus bermuara hingga maut menjadi jawaban mutlak atas segala pertanyaan yang selalu kau cari di setiap perjalanan? Apa pun itu, pertanyaan bisa didekap dan tidak perlu disalahkan. Untuk apa menyalahkan hidup ketika tidak kau temukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. Sebab jawabannya selalu kau temukan di sudut-sudut kota atau pada sembab dan harunya wajah-wajah baru.

Mungkin saja pada kuliner Nusantara di mana setiap makanan pedas selalu jadi pelarian saat isi kepalamu berantakan.

Saya jadi ingat pada seseorang, apa yang dia katakan tentang sebuah pencarian ketika ujung Pulau Jawa menjadi tujuannya. Rasa penasaran itu terus didekapnya hingga kami tidak bisa berjumpa kembali, dan pada akhirnya waktu membawa  saya ke tempat di mana dia melangkahkan kakinya.

“Someday, you’ll know everything about me but I’d like to figure out something new in East of Java”

“Why is East Java?”

Mungkin bagi dia Jawa Timur ada di ujung Pulau Jawa yang kami tempati. Sehingga untuk lari dari perasaan asing ini, dia hanya butuh sedikit  jarak lebih jauh untuk merentangkan perasaan-perasaan ini.

“Where do you want to go? what kind of a place? Bromo?”

Beberapa perempuan selalu menunjukkan rasa penasaran dengan mengajukan sebuah pertanyaan, dan perempuan selalu punya cara untuk menuntaskan rasa penasarannya. Ya, ke mana pun dia pergi, saya tetap mengikutinya sebagai rasa penasaran. Paling tidak pada rasa penasaran di mana perasaan  kita tidak bisa dimiliki satu sama lain.

Setelah menjelajahi Gunung Kelud, saya dan Damayanti segera standbye di Pare karena sudah membuat janji berangkat ke Bromo bersama teman-teman dari Kampung Inggrsi Pare.  Pukul 9 malam, mobil travel menunggu lebih lama karena ada dua orang penumpang lagi yang belum masuk. Siapa lagi kalau bukan kami. Memalukan sekali. Kami pun segera masuk ke dalam mobil ikut rombongan dari Kampung Inggris Pare. Walaupun tidak kenal mereka, saya dan Damayanti memberanikan diri bertegur sapa seperti  saling mengenal sebelumnya. Menjadi SKSD sok kenal sok dekat  di perjalanan itu bukalah hal asing dan memalukan. Di beberapa kota bahkan penjuru dunia hal itu kerap di lakukan oleh para pejalan.

Tujuh jam perjalanan kami tempuh dalam gelap menuju terangnya hari yang baru. Kami tertidur, makan dalam mobil, merapikan pakaian atau pasang makeup simplel agar wajah tersaring dari debu jalanan. Kami pun tiba di tempat pukul 03:00 dini hari dengan selamat lalu berkumpul dengan pejalan lainnya untuk naik jip ke puncak. Suasana diramaikan oleh pedagang syal dan jaket tebal. Beberapa dari kami ada yang langsung beli namun tidak sedikit juga yang asyik tawar menawar. Berkunjung ke tempat ini memang lebih baik mempersiapkan logistik lebih matang lagi untuk menghindari hal-hal yang merugikan. mempersiapkan diri dan pembekalan seperti syal, kupluk, obat-obatan, makanan, dan kebutuhan pribadimu adalah hal yang sangat diwajibkan.

Saya tidak tahu dengan siapa dia pergi, apakah dia juga melakukan hal yang sama seperti memotret plat nomor jip untuk membawa kami ke puncak? Pemandu kami bilang agar tidak lupa memotretnya dan kami bisa turun dari puncak dengan naik jip yang sama. Cara seperti itu juga berlaku pada mereka yang menggunakan jasa pemandu wisata karena jarak dari tempat parkir ke  puncak Bromo cukup jauh.Rata-rata driver jip meminta Rp. 50.000 dari satu orang penumpang dan setelah itu bisa membawa para pengunjung tiba di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Kini hanya seorang diri jauh dari hiruk-pikuk kota menahan dinginnya pegunungan, bercampur dengan orang-orang asing dan kenangan yang tetap tinggal. Kami sama-sama bertanya kepada orang-orang di tempat duduk yang berlawanan. Menanyakan nama dan tempat tinggal mereka, adalah pertanyaan lumrah walaupun hanya basa-basi saja.

“Halo Kak, kalian berdua saja?” tanya seorang perempuan lebih muda dari kami.

“Iya” jawab Damayanti. Saya melontarkan senyuman.

“Kalian juga berdua?” tanya saya yang tidak kalah penasaran dengan mereka. Jawabannya pun sama. Kami sama-sama berdua di antara orang-orang asing lainnya. Kami tenggelam dalam percakapan lebih jauh selain bertukar nama dan tempat tinggal. Meskipun mereka berdua lebih muda dari kami, rupanya mereka sangat menyenangkan dan mengikuti alur percakapan. Membicarakan perlajanan selalu menyenangkan, tidak peduli siapa lawan bicara kita tua maupun muda. Kita sama-sama mengagumi keindahan yang Tuhan ciptakan.

Kami terus berjalan tanpa menghiraukan orang-orang berlalu lalang. Kami berjalan dengan kesibukan sendiri padahal terjebak dalam kedinginan. Tidak mungkin saya kembali ke bawah lagi atau ke tempat parkir, bukan jarak yang dekat sekaligus pasti akan memalukan dan selebihnya mengecewakan.

“Kak, sini saya foto kalian berdua. Mau nggak?”

Saya menengok ke belakang. Dua perempuan itu terus membuntuti langkah saya dan Damayanti.

“Ya?” jawab saya singkat.

“Kami boleh gabung nggak ke Kakak? Biar rame aja kan kita sama-sama berdua Kak,”

pinta Pira penuh tawa dan harap. Pira, itulah nama yang saya ingat waktu berkenalan pertama kalinya. Satu orang lagi bernama Hairani. Ah saya lupa lagi. Hairani apa bukan ya? Forget it as long as I just remember her face.

Pukul 04:00 pagi kami menghentikan langkah sementara di musala. Sebagai umat muslim, saya berbaur dengan jamaah lain sekaligus pejalan yang tidak lupa menunaikan kewajibannya. Suasana mulai hangat ketika tiba waktunya melabuhkan kening pada sejadah. Doa-doa saling dipanjatkan pada Tuhan walaupun saya tidak tahu apa isi doa mereka. Tapi saya percaya doa-doa itu senantiasa menyelamatkan umat manusia dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Keindahan nampak jelas di balik nama Bukit Cinta, namun siluet para pendaki yang meremangkannya. Mereka mulai mendaki untuk melihat matahari terbit lebih jelas lagi. Saya dan Damayanti pun tidak ketinggalan. Hairani dan Pira bahkan lebih dulu menyelinap di antara tubuh-tubuh orang yang kedinginan.

Apa yang saya bayangkan ternyata tidak sama dengan kenyataan. Meskipun tempat ini indah tapi kurang mendukung untuk kesehatan. Apa saya sanggup mendaki lebih tinggi sementara angin terus mengoyak jaket dan menyusup lebih dalam? Pertanyaan itu terus mengganggu dan membuyarkan niat untuk mendaki lebih tinggi. Tubuh ini cukup asing dengan kota dan tempat wisata yang dingin karena sudah lebih lama menahan dinginnya hati ketika berharap pada dia. Hehehe. Ah, sudahlah, ni perasaan selalu ngikut aja ke mana-mana. Pokoknya yang sudah menjomblo bertahun-tahun emang nggak direkomendasiin ke tempat yang dingin-dingin ya guys karena sia-sia saja, hanya akan membuat hati kamu semakin beku. 😀

Matahari terbit lebih lama seakan ia lupa harus melakukan perjalanan 24 jam pulang ke peraduannya. Saya memang berharap matahari terbit lebih lama di tempat yang sama, karena melihat moment seperti ini bukan hanya ingin menghentikan waktu tapi meyakinkan diri saya bahwa hidup memiliki banyak harapan yang harus diperjuangkan. Harapan itu tidak hanya berakhir pada dia atau cinta yang lainnya. Harapan itu ada pada mimpi lebih dulu saya semayamkan dalam hati ketika masih kecil. Ya, mimpi. Lihatlah jarak bumi dan langit itu begitu dekat berada di garis yang sama, maka tidak ada harapan yang tidak sampai ke langit.

Saya segera mengeluarkan kamera dari tas berharap tidak ada satu moment pun yang tidak terbidik oleh lensa. Memang mata adalah lensa yang merekam keabadian karena ia menyimpan memori dalam kenangan. Tetapi bukannya kenangan mesti diabadikan?

Apa kau lihat mereka juga sibuk dengan handphonnya? Mereka yang tengah mengabadikan diri dan keindahan Gunung Bromo sama-sama membutuhkan kenangan yang perlu diulang kembali.  Tidak peduli bagaimana situasi yang mereka hadapi karena dinginnya angin di ketinggian. Setiap moment bisa membuat siapa saja terpana dan lupa pada rasa sakit atau perasaan tidak nyaman pada suatu hal di luar sana. Saya, dan mereka tentu memiliki cara yang berbeda untuk mengabadikan kenangan. Entah sekedar menyimpannya dalam memori handphone atau mengabadikannya dalam kata-kata lalu sampai ke tangan pembaca.

Angin berhembus sangat kencang, membawa pasir menyambar mata siapapun yang ada di ketinggian. Rupanya seperti ini ada di atas gunung. Saya selalu mengagumi para pendaki yang tahan melawan dingin.

Tiba-tiba pikiran saya juga merantau jauh pada nasihat ibu dua tahun yang lalu. Ibu selalu melarang saya naik gunung. Alasan-alasan ibu selalu saya bantah ketika kematian menjadi alasan mutlak saat mendaki. Bukankah kematian itu bisa terjadi di mana pun? Bahkan saat tidur sekalipun manusia bisa kehilangan nyawanya? Bukankah kematian adalah tidur sementara? Klise sekali, bu. Kini saya menahan dingin yang tidak bisa dihindari dan saya menyadari kalau cuaca yang dingin adalah salah satu kelemahan fisik saya. Mungkin kalau tidak bisa mengendalikan diri menahan hipotermi, bisa saja saya mendadak mati di tempat ini, dan ibu benar. Mendaki gunung bisa menjadi penyebab kematian.

Saya segera turun mecari kehangatan dalam kerumunan, tak menghiraukan Damayanti, Pira dan Hairani yang sudah jauh berjalan ke puncak.

“Mey, saya tunggu di bawah ya. Having fun for you all and don’t worry about me”  Satu pesan sudah sampai ke Whats app Damayanti.

Hari semakin siang dan matahri menampakan dirinya perlahan. Begitu pun suasana di pegunungan sekitar tempat ini, nampak lebih jelas dari pada pukul 04:00 tadi. Beberapa orang segera mendekati cahaya lalu memotretnya lagi. Mereka yang saya lihat hamper tidak menggenggam kamera di tangannya termasuk saya sendiri. Jarang sekali ada orang yang benar-benar menikmati moment tanpa memotret. Tetapi walaupun mereka yang asyik memotret bukan berarti tidak menikmati momen Mereka pasti punya caranya sendiri

Satu setengah jam lagi saya punya kesempatan di tempat ini sebelum pergi ke Bukit Teletubbies dan Pasir Berbisik. Jadi setiap momen ini saya maksimalkan untuk membidiknya.

Ada dua jalur untuk menuju puncak dan saya salah mengambilnya karena terobsesi melihat indahnya cahaya  fajar. Ternyata, banyak orang yang bahkan baru naik dari jalan yang satunya lagi. Ah, nyesel banget nih. Apalagi jalur yang mereka tempuh ini cukup mudah karena akses jalan  sudah menggunakan tangga. Di jalur yang sebelumnya saya harus berjalan di atas pasir yang licin ditambah hembusan angin yang menghalau pasir-pasir itu mata. What a pity! Mungkin kalau lewat jalur ini saya masih bisa sampai ke puncak walaupun kedinginan.

Apa kau pernah melihat indahnya matahari terbit? Perlahan ia tersipu tanpa memaksa untuk menunjukan dirinya. Di manapun matahari itu terbit entah kau berada di puncak gunung atau di pelataran pantai, matahari selalu sama memberi harapan kepada siapapun pengagumnya. Apakah ini yang dicari para pendaki? Apakah ini juga yang dicari oleh dia atau bahkan diri saya sendiri? Di mana setelah ini, rasanya tidak ingin ada moment yang tergantikan. Waktu 24 jam selalu sama dengan matahari terbit di tempat yang sama. Seperti ini saja, sudah lupa akan pedihnya rasa sakit, lupa dalamnya kecewa berharap pada manusia.

Lihatlah bunga-bunga kecil itu dari kejauhan. Ia tidak peduli walaupun tumbuh dalam kegelapan karena yakin bahwa matahari datang pada siapa saja untuk memberikan cahayanya.

Arunika, saya menamainaya melebihi bahasa cinta. Memang ia adalah cinta yang tidak bisa di jelaskan lagi dengan kata-kata. Apa yang lebih metafora dari menemukan cinta dalam pandanganmu saat kau berkelana? Yang menghangati tubuh sunyi setelah kau telusuri lorong-lorong kesendirian, yang menghangati gigilnya rindu setelah kau habiskan banyak waktu untuk menunggu. Arunika adalah cahaya dari ufuk timur di mana keindahannya melebihi keindahan cahaya manapun.

“Hei, di mana? Kamu baik-baik saja, kan?” Handphone saya berdering membawa pesan dari Damayanti.

“I am okay, come here dekat tangga ke dua ya”

Setelah 30 menit kontemplasi dengan diri dan memotret sana sini, akhirnya saya bertemu Damayanti dan mengabadikan diri kami berdua. Kami yang dikejar waktu karena harus tiba di tempat parkir untuk naik jip yang sama akhirnya segera mengakhiri momen ini. Sampai jumpa, Arunika.

Sungguh, kamu tidak akan menyesal pergi ke tempat ini meskipun entah apa yang kamu cari. Barangkali kau mencari keindahan, tapi kau harus menyadari bahwa keindahan akan sulit kau dapatkan.Ada beberapa keindahan yang tidak bisa kau miliki namun masih bisa kau kagumi. Ia juga hanya bisa disimpan dalam ingatan tanpa ikatan. Di tempat ini perasaan saya padanya dituntaskan, tidak penasaran lagi mengapa dia memilih Gunung Bromo sebagai pelarian. Memang keindahan Gunung Bromo membuat saya tenggelam lebih lama. Seperti tenggelam pada kearifan dia memandang kehidupan yang membuat saya terus mengaguminya. Terima kasih, kini saya sampai di tempat yang sebelumnya kau kunjungi.

 

Leave a Comment