Terjebak Hujan Badai di Gunung Kelud

Motor matic yang kami kendarai membelah jalanan menuju Blitar pukul 08:00 pagi. Waktu yang singkat itu kami maksimalkan  pada satu tujuan, yaitu Gunung Kelud. Tak ada tujuan lain selain menyetujui permintaan Navilah dan saya pun penasaran tempat di mana dia mengabadikan diri dekat kawah yang indah itu.

“How many times to arrived there?”  pertanyaan yang sama saya lontarkan pada Navilah karena dia sudah cukup lama tinggal di kampung Inggris dan tahu daerah Jawa timur.

“Almost one hour beb, stay calm okay!”  of course, but I still worry about the distance because I have an ill and I have to keep my body before continued a main trip to Bromo Mount at 09:00 pm.

Navilah bilang jarak dari Pare ke Gunung kelud hanya menempuh satu jam perjalanan. Saya percaya akan baik-baik saja setelah membawa tubuh yang kedinginan. Cukup dekat menempuh satu jam perjalanan selain  terbiasa pergi dengan waktu tempuh seperti itu,  tubuh saya pun masih bisa diajak kompromi untuk meneruskan perjalanan lagi.

Tiba-tiba perasaan mulai tak karuan. Rasa khawatir dan cemas membuntuti saya yang sudah lebih satu jam di jalan dengan gerimis yang tak kunjung reda. Apakah ini akan baik-baik saja? Hari ini semesta seperti tak merestui perjalanan kami. Tapi saya terus meyakinkan diri sebagaimana Navilah bilang kondisi dalam perjalanan seperti ini sudah biasa. Setiap pejalan harus menghadapi situasi apa pun.

“Mau balik lagi? It’s up to you,  I worried about you both” tanya navilah menyusul kami dengan motornya.

“ I don’t know, it depends on Memey”  saya selalu memberi pilihan dengan kata terserah. Padahal, saat seseorang bilang terserah artinya dia tidak punya pilihan. Kami terus mendebatkan jarak karena tak kunjung tiba ke tempat tujuan sementara waktu terus berlalu setelah dua jam kami tempuh.

Kami tiba disambut cuaca yang cerah dan tidak setetespun hujan meninggalkan genangnya. Ditambah keelokan Gunung Kelud membuat saya semakin betah. Sekilas terlihat seperti Gunung Galunggung di Tasikmalaya namun keduanya memiliki karakter yang berbeda. Gunung Galunggung memiliki akses yang mudah untuk sampai ke kawah sedangkan Gunung Kelud cukup sulit di mana setiap pengunjung harus melewati tanjakan tajam dan jauh. Bedanya lagi, warga di sekitar pegunungan sangat ramah dan menyambut baik para wisatawan, mereka bertanya kami dari mana dan free entry ke Gunung selain bayar parkir motor.

Kedatangan adalah pertemuan sementara dari keterasingan memulangkanmu pada pertemuan yang baru.

Kalimat itu yang mewakili perasaan saya hari ini. Ttidak ada kalimat-kalimat lain dalam hati. Tawa, haru, cemas, khawatir saat menempuh perjalanan ke tempat ini atau perjalanan-perjalanan dalam hidup yang tak bisa di jelaskan satu per satu. Ia perlahan meluruh bisu didekap hangatnya gunung Kelud.

Gunung yang menyimpan magma di bawah ketinggian 1731 mdpl  ini merupakan gunung merapi aktif dan pernah meletus 30 kali sejak tahun 1000 M. Kekhasan lain dari Gunung Kelud adalah  danau kawah yang dalam letusan dapat menghasilkan aliran lahar. Setelah letusan freatik tahun 2007, kubah lava itu semakin membesar dan menyumbat permukaan danau sehingga danau hampir sirna. Kubah lava ini kemudian hancur pada letusan besar di awal tahun 2014.

Apakah karena api yang bersemayam dalam perut gunung ini tubuh saya menjadi hangat dan lupa pulang selain menjelajahinya lebih lama? Bukan hanya eloknya gunung menenggelamkan saya dalam ukiran keindahannya. Di sini hangat, mencairkan dinginnya hati yang sudah lama tak ditempati, menerangi kegelapan setiap labirin yang kosong di tinggal pergi. Eaaak 😀 kumat lagi deh melankolisnya.

Perjalanan tak lagi memiliki nilai sebagai penyembuh pada siapa pun yang patah hati, kehilangan diri, atau bagaimana ia harus membangkitkan seseorang yang tersungkur dalam berbagai kepedihan. Perjalanan menjadi sebuah cerita pada siapa pun yang mengagumi keagungan-Nya. Ia meluaskan hati sebab kau latih dengan setiap kilometer jarak, tak terhitung berapa banyak peluh menggugurkannya di setiap perjalanan.

Ia menjernihkan pikiran sebab kau latih menghadapi banyak rintangan untuk tetap sabar dan tenang. Itu membuat akalmu tajam menerima setiap perbedaan dan menerima perubahan. Kadang saya terlalu pandai menyatukan hati dan pikiran untuk bekerjasama memandang hidup lebih arif, namun perjalanan cinta adalah hal yang melemahkan.

Entah kenapa kini waktu cepat berlalu, di tubir atau kaldera, aku entah dengan siapa. Bode Riswandi. Satu kalimat yang selalu saya bawa ke mana-mana.

“Stay there beb, bagus banget self portaitnya”

Tanpa sadar, Navilah membangunkan saya dari renungan. Dia juga tanpa sengaja di bidik oleh lensa kamera Damayanti menambah komposisi dalam cerita ini.

“Sini gue fotoin kalian satu per satu ya”

Menawarkan mereka memotret dirinya adalah salah satu cara menjaga keseimbangan sebuah metamorfosis. Mereka mengambil foto diri saya diam-diam walaupun hanya beberapa yang bagus dalam taksiran, saya pun tidak kalah memamerkan angel yang sangat penting dalam fotografi. Walaupun setelah itu kami sibuk dengan kegiatan memotret di sekeliling masing-masing mau selfie atau pakai self timer. We enjoyed the day!

“Ke kawah yuk? We still had a few hours before left”  permintaan Navilah menghentikan aktifitas memotret kami seketika.

“Tapi jauh gak?” tanya Damayanti penuh penasaran.

Tanpa berpikir panjang akhirnya kami siap-siap menuju tempat parkir untuk membawa motor. Sudah dipastikan kami terjaga dari angin jalanan dengan memakai jaket tebal, memenuhi cadangan makanan dan minuman, juga masalah teknisi kendaraan. Takutnya, begitu sampai di tengah jalan akhirnya motor yang kami kendarai mogok dan tak ada seorang pun yang bisa membantu keluar dari masalah tersebut. Tapi saya percaya, kami adalah wanita-wanita kuat yang dipertemukan dalam satu ikatan pejalan. Kami bisa menghadapi apa pun yang terjadi.  😀

Langit yang semula cerah tiba-tiba mendung seakan tidak mendukung. Untuk kesekian kalinya saya merasa ada yang ganjil dalam perjalanan kali ini. Awan tersibak menjadi gumpalan kegelapan menaungi kehidupan hingga penjuru kota ini. Wajah-wajah bahagia menjadi semu begitu mereka turun dari kawah diikuti petir yang keras menyambar gardu listrik di ketinggian. Hujan deras pun turun membawa angin kencang menghempas gubuk kecil tempat kami berlindung darinya. Hujan tanpa ampun mengguyur kami di bawah kegelapan dan kegetiran yang sulit saya pastikan apakah kami akan baik-baik saja?

Pikiran saya bermuara ke mana-mana. Kepada keluarga dan pada catatan-catatan seorang pejalan yang pernah saya baca. Perjalanan tak selalu meyenangkan dan  membuat kita bahagia. Ada juga lara dibawa derita namun perlu kau hadapi dan sepakati. Entahlah, entah siapa yang mengatakan hal itu apakah dari catatannya Fiersa besari atau kata hati saya sendiri.

Tak ada perasaan selain panik ketika hati tengah dikuasai rasa takut. Ini pertama kalinya merasakan badai besar di atas gunung. Saya merasa kehilangan harapan untuk turun dan pulang begitu pun teman-teman. Doa-doa mulai di panjatkan lebih keras seperti sumpah serapah, seperti mantera yang mampu meredakan badai sekejap saja. Sebab saya percaya bahwa alam bisa memahami isi hati manusia atas kehendak-Nya. Maka hanya dengan menenangkan diri dan berdoa kami semua bisa selamat.

Saya dan teman-teman berlari dalam derasnya hujan menuju tempat parkir menghindari badai semakin besar. Saya bahkan mengkhawatirkan kondisi mereka dengan kegetiran hari ini, di mna pagi hari hujan tanpa rencana juga badai datang tiba-tiba.

“Are you okay guys?”  tak ada jawaban. Suara tetap di bungkam derasnya hujan.

Terlihat lebih jelas di depan orang-orang berkumpul di tempat yang lebih aman. Ada para orang tua yang bertugas menjaga keamanan area Gunung Kelud dengan wajah lebih santai. Dia memberi kami jas hujan tipis berwarna biru muda tapi tidak gratis. Kami harus membayarnya seharga Rp.10.000 saja. Ya, dalam kondisi seperti ini selalu banyak hal yang bisa dijadikan kesempatan. But it’s okay as long as we safety.

“You feel warmth?” tanya dan senyuman beriringan menyapa mereka.

Satu jam berlalu dan badai pun reda seperti tidak meninggalkan bekas apa-apa. Bagi saya ini sedikit aneh karena badai menerpa hanya di atas ketinggian saja bukan di tempat parkir dan tempat istirahat lainnya. Wajah ibu-ibu juga penuh haru menyambut wajah menegangkan kami seolah tak tahu apa yang terjadi.

“Indomie yuk, laper nih” sahut Damayanti saat kami tiba di warung yang berjajar sepanjang area tempat parkir.

Indomie selalu jadi ciri khas makanan para pendaki saat kelaparan tapi tidak dengan saya. Rasanya sedih sekali tak bisa memenuhi permintaan dia menjadi komunitas Indominesia seketika. HAHA I was just kidding it just about my habit without eating noodle.

Pada akhirnya kami makan dengan keinginan masing-masing asal ada makanan yang tidak mengganggu dan masuk ke dalam perut.

Harga makanan di sini sangat murah rata-rata Rp. 6000 untuk satu piring nasi dengan dua jenis lauk pauk. Setiap pengunjung tidak perlu khawatir kalau membawa sedikit bekal karena tidak akan menghabiskan uang banyak. Untuk makanan paling mahal kita hanya mengeluarkan membayar Rp. 8000 dan paling besar lagi Rp. 15.000 sudah dapat paket komplit lauk dan cemilan.

Sebelum makanan disajikan, kami menghangatkan tubuh lebih dulu dengan minuman. Ada yang memesan susu, teh, juga wedang lalu kami larut dalam percakapan.

“Waah ini badai tiba-tiba nih. Pasti ada yang make sesuatu” terdengar celetuk seorang ibu di samping kami ketika sedang asik mengobrol dengan teman-temannya.

“Maaf bu, sesuatu apa ya?”  tiba-tiba pikiran saya dengan mudah mengingat hal-hal mistis karena  hujan badai ini aneh sekali.

“Ya begitulah mbak, ada yang marah di gunung sana”. jawab wanita paruh baya itu singkat namun tak saya perjelas lagi. Ah sudahlah, apa pun itu saya selalu percaya pada Tuhan dan setiap kesulitan di perjalanan adalah bagian dari sebuah tantangan yang mewarnai perjalanan itu sendiri.

Kurang lebih pukul 15:00 kami meninggalkan gunung dan pulang. Tak lupa mengenakan jas hujan menghindari gerimis sore ini. Senyuman di wajah-wajah kami mulai terbesit begitu badai mulai reda. karena bisa meneruskan perjalanan lagi. Walaupun tubuh saya kedinginan sisa tamparan badai di ketinggian, saya selalu memastikan masih dengan tubuh yang baik-baik saja karena malam ini harus berangkat ke Malang bersama Damayanti.

“Ini revisi oke! Next time go trip here anymore beb, semoga nanti gak ada badai dan bisa ke kawah ya” sahut Navilah agar nanti kami bisa berkunjung ke tempat ini lagi. Walaupun saya tidak tahu kapan itu terjadi sebab masih banyak tujuan yang belum saya tuntaskan.

“Someday, we are gonna back here” gumam dalam hati yang tak tahu kapan terjadi. Tapi saya selalu senang berbicara dan berkenalan dengan siapa pun selama mereka berpikiran terbuka.

“Makasih ya kalian, udah jadi guide kita” tambah Damayanti mengakhiri perjumpaan dengan mereka.

Damayanti masih memegang kendali di jalan. Dia terlihat kuat mengendarai motor tanpa gantian. Jalan tetap basah di genangi gerimis tak juga kunjung reda selain bias matahari menjadi menghibur kami saat ini. Bagi saya, melihat cahaya matahari selalu menandakan harapan, apa pun itu, meski pun harapan kali ini sulit sekali diterjemahkan. Harapan yang saya tuai dari letih bersama senyuman.

 

 

 

 

Leave a Comment